KKN-T UNG Gagas Forum Sentra Pangan, Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Lokal di Desa Tualango

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Inovasi Tata Kelola Partisipatif dalam Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Regulasi dan Kelembagaan di Desa Tualango” Mahasiswa KKN-T UNG Desa Tualango. (Foto: Istimewa)

Pojok6.id (UNG) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Tahap II (KKN-T II) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendorong penguatan ketahanan pangan keluarga di Desa Tualango, melalui tata kelola berbasis data, regulasi, dan potensi lokal. Gagasan tersebut dirumuskan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Inovasi Tata Kelola Partisipatif dalam Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Regulasi dan Kelembagaan di Desa Tualango”.

Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa KKN-T II UNG bersama pemerintah dan lembaga desa, untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus merumuskan strategi penguatan ketahanan pangan keluarga yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. FGD melibatkan Penjabat Kepala Desa Tualango, jajaran aparatur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-T II UNG, Abdul Hamid Tome, mengatakan FGD tersebut merupakan bagian dari program kerja kolaboratif mahasiswa dengan mengedepankan pendekatan lintas disiplin ilmu. Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar setiap rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya menjawab persoalan masyarakat, tetapi juga memiliki dasar regulasi dan kelembagaan yang dapat memastikan keberlanjutannya.

Read More
banner 300x250

“Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan setiap rekomendasi yang dihasilkan, memiliki dasar regulasi desa yang kuat serta dapat diterapkan secara nyata,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, mahasiswa memaparkan hasil survei empiris terhadap 27 kepala keluarga dengan total 106 jiwa di Desa Tualango. Data tersebut menunjukkan ketidakstabilan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor utama kerentanan pangan masyarakat, dengan persentase mencapai 48,1 persen.

Sementara itu, keterjangkauan program bantuan sosial tercatat sebesar 33,3 persen. Survei juga menemukan terdapat 15 keluarga yang memiliki anggota kelompok rentan, seperti balita dan lansia, sehingga membutuhkan perhatian serta intervensi yang lebih terarah. Temuan tersebut kemudian dipadukan dengan pemetaan potensi desa. Mahasiswa melihat sektor pertanian, perikanan, UMKM, serta pemanfaatan pekarangan produktif memiliki peluang besar untuk dikembangkan, namun selama ini belum terintegrasi dalam sebuah tata kelola bersama.

Dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T II UNG merekomendasikan pembentukan Forum Sentra Pangan Desa sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi antarlembaga, dalam mengoptimalkan potensi pangan lokal. Forum tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen, untuk menghubungkan berbagai potensi desa sekaligus memperkuat koordinasi dalam menghadapi persoalan ketahanan pangan keluarga.

Gagasan pembentukan Forum Sentra Pangan Desa mendapat dukungan dari seluruh unsur pemerintahan dan lembaga desa yang hadir dalam FGD. Kesepakatan tersebut kemudian dituangkan melalui penandatanganan dokumen bersama oleh Penjabat Kepala Desa Tualango, Ketua BPD, Direktur BUMDes, dan Koordinator Desa (Kordes) KKN-T II UNG Desa Tualango.

Penjabat Kepala Desa Tualango, Wiwin Kabaderan, mengapresiasi pendekatan ilmiah dan legal-formal yang ditawarkan mahasiswa KKN-T II UNG dalam merespons persoalan ketahanan pangan di desanya. Ia berharap gagasan yang telah dirumuskan bersama tidak berhenti pada pelaksanaan FGD, tetapi dapat dikawal hingga menjadi kebijakan dan program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kami berharap gagasan yang telah dirumuskan bersama tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pembentukan Forum Sentra Pangan Desa menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN-T II UNG dalam mendorong pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan, tetapi juga bertumpu pada data empiris, potensi lokal, regulasi, dan partisipasi masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Desa Tualango diharapkan mampu membangun sistem ketahanan pangan keluarga yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. (Adv)

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60