Dari Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi, Mahasiswa KKN-PK UNG Bantu Ibu Hamil Hadapi Kecemasan Menjelang Persalinan

Mahasiswa KKN-PK UNG Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo. (Foto: Istimewa)

Pojok6.id (UNG) – Potensi sederhana di sekitar masyarakat dapat menjadi sumber inovasi, ketika diolah dengan pengetahuan dan kreativitas. Hal tersebut ditunjukkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui pemanfaatan jeruk nipis menjadi aromaterapi roll-on bagi ibu hamil.

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa KKN-PK di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, melalui program bertema “Pemberdayaan Ibu Hamil Melalui Pembuatan Aromaterapi Jeruk sebagai Terapi Nonfarmakologis untuk Mengurangi Kecemasan Menjelang Persalinan.”

Program ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa, dalam menghadirkan pendekatan nonfarmakologis yang dapat membantu menciptakan rasa rileks dan suasana nyaman bagi ibu hamil menjelang persalinan.

Read More
banner 300x250

Tidak sekadar memberikan edukasi, mahasiswa KKN-PK turut mendampingi masyarakat dalam setiap tahapan pembuatan produk. Kulit jeruk nipis yang selama ini relatif mudah ditemukan di lingkungan masyarakat diolah menjadi minyak atsiri, kemudian diformulasikan menjadi aromaterapi dalam kemasan roll-on.

Minyak atsiri jeruk nipis mengandung senyawa aromatik, salah satunya limonene, yang dikenal memiliki potensi memberikan efek relaksasi. Aroma segar jeruk nipis diharapkan dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi ibu hamil dalam menghadapi masa menjelang persalinan.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Mohamad Adam Mustapa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata penerapan ilmu pengetahuan mahasiswa di tengah masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan produk tepat guna dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pemanfaatan jeruk nipis sebagai bahan baku aromaterapi juga memiliki nilai pemberdayaan. Masyarakat memperoleh keterampilan baru yang dapat dikembangkan, tidak hanya untuk kebutuhan kesehatan, tetapi juga berpotensi menjadi produk usaha mikro.

“Jika dikembangkan secara berkelanjutan, keterampilan yang diperoleh masyarakat dapat menjadi peluang, untuk menghasilkan produk berbasis bahan lokal yang memiliki nilai ekonomi,” tambahnya.

Dalam proses pembuatannya, mahasiswa terlebih dahulu mengajarkan masyarakat mempersiapkan bahan baku. Kulit jeruk nipis segar dipilah dan dicuci hingga bersih, kemudian dipotong kecil atau diparut tipis untuk membantu melepaskan kandungan minyak atsiri.

Bahan tersebut selanjutnya diproses menggunakan metode distilasi uap. Uap air panas dialirkan melewati bahan untuk melepaskan molekul minyak atsiri. Campuran uap minyak dan air kemudian dialirkan menuju kondensor hingga mengalami proses pengembunan.

Hasil kondensasi kemudian ditampung dan dipisahkan untuk memperoleh minyak atsiri. Minyak yang dihasilkan selanjutnya diformulasikan menggunakan minyak pembawa, seperti virgin coconut oil, dengan memperhatikan formulasi yang sesuai untuk penggunaan pada kulit.

Setelah melalui proses formulasi, produk dikemas dalam botol roll-on berukuran 10 mililiter. Kemasan tersebut dipilih karena praktis, higienis, dan mudah digunakan.

Kepala Desa Tolotio bersama pengurus PKK menyambut positif inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN-PK UNG. Selain memberikan alternatif pemanfaatan bahan alam, keterampilan pembuatan aromaterapi dinilai dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.

Melalui inovasi tersebut, mahasiswa KKN-PK UNG berupaya mempertemukan tiga aspek sekaligus, yakni pengetahuan kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Program ini diharapkan tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Dengan pendampingan dan pengembangan yang berkelanjutan, pemanfaatan jeruk nipis dapat menjadi salah satu inovasi lokal yang terus dikembangkan masyarakat Desa Tolotio, sekaligus membuka peluang lahirnya produk kesehatan berbasis potensi desa. (Adv)

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60