Pojok6.id (Makassar) – Rabu pagi itu, aula wisuda Universitas Fajar (UNIFA) Makassar dipenuhi wajah-wajah bahagia. Toga hitam, senyum haru, dan tepuk tangan panjang menjadi penanda lahirnya cerita baru dari para wisudawan yang akhirnya menuntaskan perjalanan akademik mereka, Rabu (13/5/2026).
Di antara deretan toga yang memenuhi ruangan, tokoh publik, Erwinsyah Ismail S.I.Kom, M.I.Kom, tampak mencuri perhatian. Bukan semata karena ia dipercaya menyampaikan sambutan alumni saat yudisium beberapa hari sebelumnya Senin (11/5/2026), tetapi karena ada perjalanan panjang yang tersembunyi di balik gelar Magister Ilmu Komunikasi yang kini resmi ia sandang.
Bagi banyak orang, wisuda mungkin hanya akhir dari masa kuliah. Namun bagi Erwin Ismail, momen itu terasa seperti perjumpaan kembali dengan mimpi yang sempat tertunda sangat lama. Hampir 16 tahun ia menunggu untuk kembali mengenakan toga.
“Magister ini saya menunggu hampir 16 tahun, akhirnya bisa pakai toga lagi,” ucapnya dengan nada penuh syukur.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan perjalanan yang tidak ringan. Di tengah aktivitas politik, tanggung jawab publik, dan padatnya agenda organisasi, Erwin tetap berusaha menjaga ruang bagi dirinya untuk bertumbuh lewat pendidikan.
Sebagai anggota DPRD Provinsi Gorontalo dua periode, hari-harinya dipenuhi agenda rakyat, rapat, pengawasan, hingga pembahasan kebijakan. Belum lagi tanggung jawab sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Gorontalo yang menuntut konsolidasi politik hampir tanpa jeda.
Kesibukan itu masih bertambah dengan amanahnya sebagai Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Gorontalo, organisasi yang aktif menghadirkan berbagai kegiatan otomotif dan pembinaan komunitas di daerah. Belum lagi, ia juga yang diketahui berlatar belakang sebagai pengusaha yang merintis usahanya dari nol.
Hingga kini, usahanya terus berjalan dan tetap membutuhkan waktu serta perhatian, untuk dikelola di tengah padatnya aktivitas yang ia jalani, termasuk bagaiamana ia mampu menyeimbangkan aktivitas yang begitu padat.
Di tengah ritme kehidupan yang nyaris tak pernah benar-benar lengang itu, Erwin memilih untuk tidak berhenti belajar.
“Alhamndulillah, saya wisuda hari ini, saya sangat bersyukur,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku sedikit ‘egois’ dalam menentukan arah pendidikannya. Baginya, ilmu harus memiliki benang merah dengan perjalanan hidup yang sedang ia jalani.
“Agak sedikit egois karena saya maunya ilmunya linear. S1 hingga S2 tetap pada koridor Ilmu Komunikasi, dan insya Allah lanjut S3 juga tetap di bidang yang sama,” katanya.
Pilihan itu bukan tanpa alasan. Fokus ilmunya pada Komunikasi Publik dan Komunikasi Politik, dua bidang yang menurutnya sangat dekat dengan dunia pengabdian, kepemimpinan, dan dinamika masyarakat yang setiap hari ia hadapi.
Di sela rapat dan aktivitas organisasi, ada malam-malam yang tetap diisi membaca, menyusun tugas, dan menyelesaikan tanggung jawab akademik ketika banyak orang memilih beristirahat. Ada waktu-waktu yang dicuri diam-diam demi memastikan mimpi lama itu benar-benar sampai di garis akhir.
Perjuangan itu pun berbuah manis. Erwin berhasil menyelesaikan studi dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,96 dan lulus dengan predikat pujian.
Bagi putra sulung Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail itu, pendidikan bukan sekadar soal gelar akademik. Pendidikan adalah cara menjaga diri agar tetap tumbuh di tengah tanggung jawab publik yang terus bertambah.
“Kampus Universitas Fajar (UNIFA) Makassar akan berkesan dalam hidup saya,” tuturnya singkat, namun penuh makna.
Di tengah tepuk tangan wisuda dan haru keluarga yang menyaksikan dari kursi auditorium, Erwin Ismail seolah membuktikan satu hal sederhana, yakni sesibuk apa pun kehidupan berjalan, mimpi tidak pernah benar-benar terlambat untuk dituntaskan, selama tekad tetap dijaga dan langkah tidak berhenti berjalan.








