Bukan Sekadar Festival, Gorontalo Coffee Week 2026 Siap “Menyeduh” Masa Depan Kopi Gorontalo

Gorontalo Coffe Week (GCW) 2026. (Foto: Istimewa)

Pojok6.id (Gorontalo) – Gorontalo Coffee Week (GCW) 2026 tidak ingin sekadar menjadi ajang menikmati kopi dan berburu produk kopi. Lebih jauh, gelaran yang akan berlangsung pada 11–13 September 2026 di Grand Palace Convention Center (GPCC), Kota Gorontalo, ini dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan dan memperkuat seluruh mata rantai ekosistem kopi di Gorontalo.

Memasuki pelaksanaan tahun kedua, GCW 2026 mengusung tema “Menyeduh Masa Depan Kopi Gorontalo.” Tahun ini, Bank Indonesia mempercayakan penyelenggaraan dan pengelolaan GCW kepada Diskopi dan Raya Culture Labs, dengan dukungan The Wave Roastery, Mejoes Coffee & Slowbar, Tempat Nala, serta Everyday Coffee.

Konsep tersebut menjadi pembeda utama GCW 2026. Jika festival kopi pada umumnya berorientasi pada produk, tenant, transaksi dan pengunjung, GCW ingin menghadirkan ruang yang lebih luas untuk membangun koneksi antarpelaku industri.

Julianur dari Diskopi dan Mejoes Coffee and Slow Bar mengatakan, kopi tidak semata-mata berbicara tentang minuman yang tersaji di dalam cangkir. Di baliknya terdapat perjalanan panjang yang melibatkan petani, proses pascapanen, roastery, barista, pelaku usaha hingga konsumen.

“GCW adalah sebuah platform ekosistem kopi, bukan sekadar festival kopi. Ini adalah ruang yang mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kopi Gorontalo, mulai dari petani, roastery, coffee shop, kedai kopi, street coffee, barista, UMKM, supplier, pelaku kreatif, sampai masyarakat sebagai penikmat kopi,” ujarnya.

Menurutnya, GCW dibangun untuk melihat industri kopi secara utuh. Setiap mata rantai memiliki peran yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui tema “Menyeduh Masa Depan Kopi Gorontalo.”

Wahyu dari Raya Culture Labs dan Tempat Nala menjelaskan, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan gambaran arah yang ingin dibangun melalui GCW.

“Artinya, kami tidak hanya ingin berbicara tentang bagaimana kopi Gorontalo hari ini, tetapi juga bagaimana kita membangun masa depannya,” kata Wahyu.

GCW 2026 nantinya menghadirkan ruang untuk pengalaman kopi, edukasi, kompetisi, UMKM, supplier, diskusi dan berbagai aktivitas lain yang memungkinkan pelaku ekosistem kopi saling bertemu.

Dengan konsep tersebut, penyelenggara berharap GCW tidak berhenti pada keramaian selama tiga hari. Lebih dari itu, pengunjung maupun pelaku industri diharapkan membawa pulang pengetahuan, membangun koneksi baru, membuka peluang usaha dan melanjutkan kolaborasi setelah kegiatan berakhir.

Keterlibatan pelaku industri kopi dalam penyelenggaraan GCW 2026 juga tidak muncul secara tiba-tiba. Un Toar dari Diskopi dan Tempat Nala mengatakan, pada pelaksanaan GCW sebelumnya, pihaknya masih sebatas berpartisipasi dalam kompetisi dan mengambil peran melalui tenant booth. Tahun ini, mereka mendapat kepercayaan lebih besar dari Bank Indonesia Provinsi Gorontalo untuk ikut menyukseskan penyelenggaraan GCW.

Keinginan untuk mengambil peran lebih besar tersebut, menurutnya, berangkat dari inisiatif sekaligus keresahan para pelaku yang berada di dalam ekosistem kopi itu sendiri.

“Gagasan awalnya bukan karena diminta untuk membuat festival kopi. Tetapi sejak awal kami juga sadar bahwa membangun ekosistem tidak mungkin dilakukan sendirian,” jelasnya.

Hamied dari Diskopi dan MAHI menegaskan, hubungan antara pemerintah dan pelaku industri dalam GCW lebih tepat disebut sebagai kolaborasi, bukan intervensi. Menurutnya, pemerintah seperti Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Gorontalo maupun Pemerintah Kota Gorontalo dapat mengambil peran sebagai fasilitator, membuka akses, mempertemukan stakeholder serta memberikan dukungan kepada UMKM dan pelaku industri.

“Kalau kita bicara tentang masa depan kopi Gorontalo, ini bukan pekerjaan satu penyelenggara, satu coffee shop, satu komunitas, ataupun pemerintah saja. Ini adalah pekerjaan bersama. Bahkan kami rayakan sebagai lebarannya anak kopi,” tambahnya.

Pertumbuhan industri kopi di Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir juga membawa dinamika tersendiri. Coffee shop, kedai kopi, roastery, produk kopi kemasan hingga street coffee terus berkembang. Kondisi tersebut membuka peluang ekonomi baru, tetapi pada saat yang sama membuat persaingan di pasar semakin dinamis.

Sagis dari Raya Culture Labs dan Tempat Nala mengatakan, perkembangan tersebut tidak seharusnya dilihat sebagai pertarungan antara satu pelaku dengan pelaku lainnya. Coffee shop, misalnya, memiliki struktur biaya yang cukup besar, mulai dari sewa tempat, gaji karyawan, pajak, operasional hingga investasi peralatan. Sementara street coffee hadir dengan struktur biaya yang berbeda dan menawarkan alternatif bagi konsumen. Namun, menurut Sagis, street coffee bukanlah masalah.

“Mereka juga bagian dari pertumbuhan ekosistem kopi Gorontalo,” ujarnya.

Karena itu, GCW 2026 justru ingin mempertemukan coffee shop, kedai kopi hingga street coffee dalam satu ruang. Para pelaku akan memiliki kesempatan yang sama untuk memperkenalkan produk sekaligus karakter masing-masing kepada masyarakat.

“Kami ingin mengubah perspektif dari ‘siapa kompetitor saya?’ menjadi ‘bagaimana kita membuat ekosistem kopi Gorontalo menjadi lebih kuat?’ Karena kalau industri kopi Gorontalo semakin sehat, pada akhirnya semua pelaku akan mendapatkan manfaat,” katanya.

Selain itu, semangat membangun ekosistem juga diterapkan dalam sisi kompetisi barista. Hikem dari Diskopi dan The Wave Roastery mengatakan, perbedaan mendasar GCW dengan festival atau pameran kopi biasa terletak pada upaya membangun koneksi antarpelaku.

“GCW tidak bisa berhenti hanya pada gelaran festival atau pameran. GCW seharusnya menjadi platform untuk membangun ekosistem industri kopi di Gorontalo,” jelasnya.

Menurutnya, kompetisi tetap menjadi bagian penting dalam industri kopi. Namun kompetisi tidak semestinya membuat seluruh pelaku merasa harus saling mengalahkan. Justru, kompetisi dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, belajar dari pelaku lain dan meningkatkan standar industri secara bersama-sama. Hal tersebut mulai diterapkan melalui rangkaian Road to GCW, salah satunya Pour & Prove.

Ikel dari Diskopi dan Mejoes Coffee & Slow Bar menambahkan, melalui kompetisi tersebut pihaknya mulai mencoba membawa kompetisi kopi lokal ke level yang lebih terstruktur, termasuk memperkenalkan sistem penilaian dengan compulsory scoring yang sebelumnya belum umum digunakan dalam kompetisi lokal di Gorontalo.

Perubahan tersebut diharapkan membuat barista tidak sekadar mengejar piala, tetapi juga memahami standar kompetisi, mengetahui bagaimana mereka dinilai dan mampu menerima evaluasi.

“Yang paling penting, memiliki kepercayaan diri untuk membawa kemampuan mereka ke kompetisi yang lebih besar,” ujarnya.

Tidak berhenti pada kompetisi, GCW juga menghadirkan kelas edukasi sebagai jalur persiapan bagi para barista. Wahyu mengatakan, penyelenggara ingin membangun sebuah proses yang berkelanjutan: belajar, berlatih, berkompetisi, mendapatkan evaluasi, kemudian naik level.

“Kami tidak hanya ingin melahirkan juara. Kami ingin melahirkan barista yang setelah menjadi juara punya keberanian untuk bertanding di panggung yang lebih besar,” katanya.

Pada akhirnya, GCW 2026 ingin meninggalkan sesuatu yang lebih panjang dari sekadar kemeriahan selama tiga hari. Penyelenggara ingin coffee shop, kedai kopi, street coffee, barista, roastery, petani, supplier, UMKM, pemerintah dan masyarakat melihat bahwa industri kopi Gorontalo bukan kumpulan usaha yang berjalan sendiri-sendiri.

Karena itu, tema “Menyeduh Masa Depan Kopi Gorontalo” menjadi gambaran tentang warisan yang ingin ditinggalkan GCW 2026.

“Bukan hanya keramaian selama tiga hari, tetapi ekosistem yang lebih terhubung, pelaku yang lebih kompeten, standar yang lebih tinggi, dan kolaborasi yang tetap berjalan setelah GCW selesai,” tutur Sagis.

Dengan semangat tersebut, GCW 2026 diharapkan menjadi titik temu bagi seluruh elemen kopi Gorontalo sekaligus momentum untuk mulai menyusun fondasi industri kopi yang lebih sehat, kompetitif dan berkelanjutan.

Sebab, masa depan kopi Gorontalo tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menghasilkan kopi terbaik, tetapi juga oleh seberapa kuat para pelakunya mampu tumbuh, terhubung dan berkolaborasi bersama.

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60