Pojok6.id (UNG) – Program riset kolaboratif internasional bertajuk Green Health: Community Health Center Net Zero Transition Regulatory Framework mulai menunjukkan perkembangan signifikan dalam upaya mendorong layanan kesehatan primer di Indonesia menuju net zero emission.
Hal tersebut dipaparkan oleh salah satu peneliti Partnership for Australia – Indonesia Research (PAIR), Prof. Yowan Tamu, dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Prof. Abdussamad Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo (FEB UNG).
Dalam presentasinya, Prof. Yowan menjelaskan bahwa penelitian tersebut berlangsung selama dua tahun sejak Agustus 2025, dan melibatkan kolaborasi sejumlah perguruan tinggi ternama dari Australia dan Indonesia dengan University of Melbourne sebagai AU Lead.
Adapun mitra dari Indonesia terdiri atas Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Gadjah Mada, serta Universitas Sam Ratulangi. Dalam penelitian tersebut, Prof. Yowan berperan sebagai partner investigator dengan pendekatan socio-anthropological lens.
Menurut Prof. Yowan, penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata terhadap tata kelola kesehatan di daerah, khususnya dalam mendukung agenda transisi energi dan pengurangan emisi karbon pada fasilitas layanan kesehatan primer.
“Kami berupaya membangun kerangka regulasi yang berbasis bukti dan praktis untuk diterapkan di tingkat puskesmas, khususnya di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Karena itu, dampak yang kami harapkan bukan hanya bersifat akademik, tetapi juga berorientasi pada kebijakan dan relevan secara langsung dalam memperkuat tata kelola kesehatan,” ujar Prof. Yowan.
Dalam implementasinya, penelitian tersebut turut melibatkan berbagai impact partners, di antaranya Bappeda Provinsi Gorontalo yang berperan mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam RPJMD dan perencanaan sektoral daerah. Selain itu, Dinas Kesehatan tingkat provinsi maupun kabupaten juga dilibatkan, dalam pemetaan regulasi dan proses adopsi kebijakan.
Sejumlah puskesmas terpilih di Gorontalo dan Sulawesi Utara turut menjadi lokasi pelaksanaan wawancara, focus group discussion (FGD), serta survei yang melibatkan sekitar 50 responden. Penelitian ini juga menggandeng organisasi perangkat daerah lintas sektor, guna memperkuat koordinasi terkait implementasi mandat net zero di daerah.
Riset tersebut ditargetkan melahirkan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari kebijakan berbasis bukti untuk mendukung transisi net zero pada layanan kesehatan primer, kerangka insentif bagi dekarbonisasi fasilitas kesehatan, hingga model regulasi yang dapat diadopsi pemerintah daerah maupun nasional. Tidak hanya itu, pendekatan antropologis yang digunakan diharapkan mampu memastikan regulasi yang disusun, tetap sesuai dengan konteks budaya dan kondisi lokal masyarakat.
Kegiatan itu turut dihadiri Deputi Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapannya agar hasil penelitian kolaboratif tersebut, benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga hasil penelitian ini bisa diterjemahkan menjadi dampak nyata,” tandasnya. (Adv)








