Pojok6.id (Pohuwato) – Kawasan hutan di Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, tak hanya menyimpan habitat Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), tetapi juga potensi wisata berbasis edukasi yang belum banyak dikenal. Melihat peluang tersebut, PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo) mulai menyiapkan Laboratorium Lapangan Konservasi sebagai fondasi pengembangan eduekowisata berbasis keanekaragaman hayati.
Laboratorium lapangan yang akan dibangun di Desa Mekarti Jaya itu dirancang tidak hanya sebagai pusat penelitian, tetapi juga menjadi ruang belajar terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, komunitas, hingga wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan Julang Sulawesi beserta ekosistem hutan yang menjadi habitatnya.
Konsep yang dikembangkan memadukan konservasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Warga sekitar diharapkan tidak hanya berperan menjaga kawasan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi melalui pengembangan jasa pemandu wisata, penyediaan homestay, produk UMKM, hingga kegiatan wisata edukasi berbasis lingkungan.
Dr. Salahudin Pakaya, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Gorontalo, mengatakan pengembangan eduekowisata menjadi salah satu strategi untuk memastikan konservasi mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.
“Konservasi akan lebih kuat ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung. Karena itu, kami tidak hanya berbicara tentang perlindungan Julang Sulawesi, tetapi juga bagaimana kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi pembelajaran yang menarik. Wisatawan datang untuk belajar tentang keanekaragaman hayati, sementara masyarakat memperoleh peluang ekonomi baru tanpa mengorbankan kelestarian hutan,” ujar Salahudin.
Menurutnya, keberadaan Laboratorium Lapangan Konservasi akan memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat riset sekaligus destinasi pendidikan lingkungan yang dapat dikunjungi berbagai kalangan.
Manager PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, Adi Nugroho, mengatakan pengembangan eduekowisata merupakan bagian dari strategi keberlanjutan program konservasi yang disusun hingga tahun 2029.
“Kami ingin konservasi memberikan dampak yang lebih luas. Tidak hanya melindungi satwa endemik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan eduekowisata. Ketika masyarakat memperoleh manfaat dari kawasan yang lestari, maka kesadaran untuk menjaga lingkungan akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Adi.
Ia menjelaskan, Laboratorium Lapangan Konservasi akan menjadi titik awal berbagai aktivitas, mulai dari penelitian biodiversitas, pendidikan konservasi, pengamatan burung, hingga pelatihan masyarakat sebagai pemandu wisata berbasis lingkungan.
Sementara itu, Reynold Gobel, Assistant Manager Business Support PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo, menilai pengembangan eduekowisata menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kami melihat konservasi memiliki nilai yang jauh lebih besar ketika mampu menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi. Melalui konsep eduekowisata, masyarakat tidak hanya menjadi penjaga hutan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pengembangan kawasan. Inilah bentuk keberlanjutan yang ingin kami bangun bersama,” ujar Reynold.
Program Konservasi Julang Sulawesi merupakan kolaborasi PLN Nusantara Power dan Universitas Muhammadiyah Gorontalo yang dirancang hingga tahun 2029. Selain menjaga kelestarian salah satu satwa endemik Sulawesi, program ini diarahkan untuk membangun kawasan konservasi yang produktif, menjadi pusat pembelajaran lingkungan, sekaligus mendorong tumbuhnya destinasi eduekowisata berbasis masyarakat di Kabupaten Pohuwato. (adv)








