Melihat Papua dalam Buku Ufuk Timur Karya Christopel Paino

Diskusi dan bedah buku Ufuk Timur Karya Christopel Paino yang diselenggarakan oleh Lakpesdam PCNU Kota Gorontalo, AJI Kota Gorontalo, Japesda dan Gusdurian Gorontalo di Garasi Kata, Jumat (21/01/2020).(Ihyas)

GORONTALO – Awal Februari,buku karya akhirnya diluncurkan. Buku setebal 221 halan itu merupakan catatan perjalanan dan perjumpaan sang penulis dengan orang Papua selama menjalankan tugas sebagai jurnalis lingkungan di Papua.

Di Garasi Kata pada Jumat (21/02/2020), sejumlah organisasi yang terdiri dari AJI Gorontalo, Lapeksdam PCNU Kota Gorontalo, Japesda dan Gusdurian Gorontalo mengelar bedah buku Ufuk Timur.

Menurut Prosais Gorontalo, Jamil Massa, dalam buku Ufuk Timur penulis menggunakan pendekatan jurnalisme sastrawi dalam karyanya dan juga banyak menunjukan data-data, kondisi sosial, sejarah, konflik dan kebudayaan orang Papua.

“Penulis masih sangat kuat dengan analitis dan mempertahankan dirinya sendiri yang berlatar belakang sebagai jurnalis yang berkutat dengan data,” kata Jamil Massa salah satu pemantik pada diskusi bedah buku Ufuk Timur.

Menurut Jamil penulis memiliki kekuatan yang humanis dan manusiawi dalam mengisahkan pertemuan dengan tokoh-tokoh orang papua dalam buku tersebut. Penulis juga berusaha mengoreksi bagai satu ke bagian yang lain dalam mengisahkan bermacam-macam pertemuan dan konflik yang ada.

“Christopel disini melakukan pembelaan (terhadap orang Papua) dengan caranya sendiri, banyak bertemu dengan beragam karakter orang,” katanya.

Sementara itu, Terri Repi, akademisi yang juga pemantik dalam diskusi bedah buku Ufuk Timur mengatakan, penulis memberikan kesaksian yang sangat luar biasa dalam mengisahkan realita yang terjadi di Papua sejak tahun 1960-an. Dan mengisahkan banyak tokoh-tokoh orang dalam menunjukan apa yang terjadi di Papua dengan perspektif orang lokal Papua.

“Saya memiliki standar takaran ekspektasi tentang buku ini dan ternyata buku ini melebihi apa yang saya ekspektasikan sebelumnya,” kata Terri mengapresiasi lebih tentang buku tersebut.

Ia juga mengatakan, penulis mengambil cara berbeda dalam memandang informasi yang telah lama diketahui orang banyak tentang Papua. Dalam buku itu juga penulis mengambil posisi yang realisme dalam mengisahkan tentang Papua.

“Penulis juga menggambarkan (situasi papua) dengan gambaran sepak bola dalam tulisanya. Ada tragedi ada komedi, ketika membaca buku ini saya teringat membaca tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer,” ujar Terri.

Dibalik terciptanya karya buku Ufuk Timur, Christopel Paino mengungkapkan buku tersebut terinspirasi dengan kisah perjalanan dalam film Che Guevara yang bertemu bermacam-macam orang.

“Saya berpikir membuat buku fiksi, terus terpikir kenapa harus buku fiksi? dan akhirnya terpikirkan untuk membuat buku perjalanan seperti pada film Che Guevara banyak ketemu dengan orang. Itu mula-mula menulis buku Ufuk Timur,” ungkap Christopel Paino yang akrab disapa Chris itu.

Dalam bukunya, Chris memasukan karakter istri dan anaknya dan mengisahkan kedatangan istri dan anak  ke papua. Karakter tersebut ia kisahkan untuk merepresentasikan dan menunjukan orang-orang yang belum pernah datang di Papua atau orang yang tidak tahu tentang Papua.

“Pandangan-pandangan (orang luar Papua) seperti itu saya masukan untuk merepresentasikan Papua,” ujar Chris.

Pada buku itu juga, Chris berusaha untuk menampik pandangan orang-orang di luar Papua tentang pandangan orang bahwa Papua yang indah, unik dan eksotik.

“Menurut saya papua itu adalah Indonesia yang lain. Dan banyak bab-bab yang hilang di Papua,” katanya.(IYS)

Related posts