Apakah Menjadi Punk Berarti Harus Mendukung LGBTQ?

Foto: istimewa

Di Persimpangan Hak Asasi Manusia, Punk, dan Keyakinan

Oleh: Rengga Gobel

Pojok6.id (Tajuk) – Belakangan ini, media sosial dipenuhi perdebatan mengenai pernyataan, “Kalau kamu anti-LGBTQ, berarti kamu bukan punk.” ada juga yang menyebut “ini akun dakwah berkedok punk.” Di sisi lain, muncul pula tanggapan seperti, “Saya tetap punk, tetapi keyakinan saya tidak membenarkan LGBTQ.”

Kolom-kolom komentar, khususnya di Instagram, berubah menjadi ruang saling sanggah. Sebagian orang membela LGBTQ dengan mengacu pada nilai kebebasan yang selama ini lekat dengan kultur punk. Sebagian lainnya menolak dengan alasan keyakinan agama dan menganggap LGBTQ sebagai bentuk penyimpangan.

Menariknya, jika melihat latar belakang para komentator, perbedaan pandangan itu tidak datang dari orang-orang sembarangan. Di antara mereka ada anak punk yang benar-benar hidup dalam kultur punk, bukan sekadar poser. Ada pula musisi punk dan punk rocker senior. Mereka sama-sama berasal dari lingkungan yang identik dengan punk, tetapi memiliki pandangan yang berbeda mengenai isu tersebut.

Mengapa Banyak Punk Mendukung Hak LGBTQ?

Bagi kelompok ini, persoalannya bukan semata-mata tentang orientasi seksual. Mereka memandang punk sebagai sebuah budaya yang sejak awal berdiri menolak segala bentuk penindasan. Karena itu, mendukung hak-hak LGBTQ dianggap sebagai bagian dari semangat anti-diskriminasi yang menjadi salah satu nilai dalam kultur punk.

Argumen yang kerap mereka kemukakan antara lain:
•  menolak segala bentuk diskriminasi;
•  menentang kekerasan;
•  melawan penindasan terhadap kelompok minoritas; dan
•  meyakini bahwa setiap orang berhak hidup tanpa intimidasi.

Atas dasar itu, mereka berpendapat bahwa membela hak-hak LGBTQ merupakan kelanjutan dari semangat punk dalam melawan ketidakadilan.

Mengapa Ada anak Punk yang Menolak LGBTQ?

Di sisi lain, tidak sedikit anak punk yang berasal dari latar belakang keagamaan yang kuat. Mereka membedakan antara menghormati manusia sebagai individu dan menyetujui suatu perilaku.

Menurut mereka, seseorang dapat menolak praktik LGBTQ berdasarkan keyakinan agama tanpa harus membenci atau merendahkan orang yang memiliki orientasi seksual tersebut. Dalam pandangan ini, kebebasan beragama juga merupakan bagian dari hak asasi manusia yang patut dihormati.

Karena itu, mereka berusaha mempertahankan dua prinsip sekaligus: menghormati martabat setiap manusia tanpa mengorbankan keyakinan yang mereka anut. Bagi mereka, membela kebebasan tidak harus berarti melepaskan prinsip.

Titik Konflik Sebenarnya

Jika dicermati lebih jauh, inti perdebatan ini sebenarnya bukan semata-mata tentang LGBTQ. Yang dipertemukan adalah dua bentuk kebebasan yang sama-sama ingin dipertahankan. Di satu sisi, ada kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan identitasnya. Di sisi lain, ada kebebasan setiap orang untuk tetap berpegang pada keyakinan yang diyakininya.

Di sinilah diskusinya menjadi lebih menarik sekaligus lebih rumit. Apakah mempertahankan salah satu kebebasan harus berarti mengurangi kebebasan yang lain? Ataukah keduanya masih dapat hidup berdampingan tanpa saling meniadakan?

Mungkin, sebelum terburu-buru menyimpulkan siapa yang paling “punk”, saya ingin menyoroti sebuah tulisan yang saya repost dan menurut saya layak dibaca setelah membaca tulisan saya ini sebagai bahan refleksi.

Tulisan ini mengisahkan sudut pandang temannya seorang pria Muslim yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis. Ia adalah pimpinan sebuah komunitas bernama Straight Struggle, sebuah wadah dukungan bagi umat Muslim yang mengalami ketertarikan sesama jenis, tetapi berupaya menjalani hidup sesuai dengan keyakinan agamanya.

Baru tahu komunitas seperti ini ada? ya. Jujur, saya juga baru mengetahuinya setelah membaca tulisan tersebut. Anggota komunitas ini tidak sedang mengampanyekan gaya hidup tertentu. Sebaliknya, mereka adalah komunitas yang saling mendukung dalam upaya mengelola ketertarikan terhadap sesama jenis tersebut.

Mereka tidak ingin dilabeli sebagai gay, dan mereka juga tidak ingin mempraktikkan hubungan seksual sesama jenis maupun seks bebas. Sejauh yang diceritakan dalam tulisan itu, mereka mengakui bahwa perjuangan tersebut tidak mudah, dari ratusan anggota komunitas tersebut, belum ada satupun yang berhasil menghilangkan ketertarikan yang mereka rasakan.

LGBTQ itu bukan hanya identitas, tapi juga memuat gaya hidup, yakni seks bebas dan tentu seks sesama jenis. Dua hal ini terang berbeda, penyuka sesama jenis belum tentu mempraktikkan seks sesama jenis.

tulisan lainnya yang juga saya soroti.

Menyamakan semua orang yang memiliki ketertarikan sesama jenis sebagai kelompok LGBTQ, sebelum kemudian memvonisnya sebagai “dosa yang berjalan” adalah tindakan yang begitu kejam.

Kalau ditanya bagaimana pandangan saya, saya tidak bersimpati terhadap praktik LGBTQ. Namun, saya memiliki empati kepada mereka yang harus menjalani pergulatan batin karena memiliki ketertarikan kepada sesama jenis. Bagi saya, keduanya adalah hal yang berbeda.

Dan kalaupun ada yang memilih mempraktikkan hubungan sesama jenis, saya teringat nasihat yang sering disampaikan para ustaz dalam ceramah: “Bencilah perbuatannya, bukan orangnya. Jika ia meninggalkan perbuatan itu, maka ia adalah saudaramu kembali.”

Pesan tersebut mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk membenci kemaksiatan untuk menyelamatkan pelakunya, bukan untuk memusuhi, merendahkan, atau merasa diri lebih suci daripada orang lain.

Terlebih lagi, tidak ada ajaran yang membenarkan kita mengutuk atau menghina seseorang hanya karena pergulatan yang sedang ia hadapi.

Apakah Punk Mengharuskan Keseragaman Pendapat?

Kembali pada pembahasan tentang punk dan LGBTQ.

Jika punk lahir sebagai kritik terhadap tekanan yang memaksa semua orang untuk berpikir dengan cara yang sama, apakah mungkin kini sebagian dari komunitas punk justru sedang menciptakan tekanan baru bahwa setiap orang yang mengaku punk harus memiliki pandangan yang identik terhadap isu tertentu?
•  Apakah berbeda pendapat otomatis berarti intoleran?
•  Apakah kritik selalu identik dengan kebencian?
•  Apakah identitas punk ditentukan oleh daftar isu yang harus disetujui?

Saya beri sebuah analogi lagi, jika punk melawan penindasan terhadap kaum minoritas. Andaikan suatu saat kelompok LGBTQ tidak lagi menjadi kelompok minoritas, melainkan menjadi mayoritas. Lalu kelompok yang memiliki pandangan homofobik menjadi minoritas dan mengalami penindasan, apakah punk itu sendiri akan beralih dari kaum yang pro LGBTQ dan mendukung kaum yang ditindas?

Saya kira bukan itu soalnya.

Tidak bersimpati atau tidak mendukung bukan berarti menindas, ini semata-mata hanya perbedaan pandangan. Kalau semua orang harus dipaksa sepakat dengan satu cara pandang, itu juga suatu bentuk kontrol. dan itu justru yang saya lawan.

Punk tidak pernah meminta semua orang memiliki pandangan yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan itu dijalani tanpa kekerasan, tanpa intimidasi, dan tanpa menghilangkan hak orang lain untuk hidup sesuai keyakinannya.

Justru ujian terbesar sebuah budaya yang mengaku cinta kebebasan bukan ketika semua orang sepakat, melainkan ketika mereka mampu hidup berdampingan di tengah perbedaan yang paling sulit sekalipun.

Related posts