Menjaga Bajau, Menjaga Laut, Meredam Modernitas

Suku Bajau
Seorang gadis Bajau Laut berjemur di perahunya di lingkungannya di Laut Sulawesi di negara bagian Sabah Malaysia, Kalimantan 17 Februari 2009. (Foto: REUTERS/Bazuki Muhammad)

Pojok6.id (Nasional) – disebut James Cameron, sutradara Avatar: The Way of Water sebagai salah satu inspirasi dalam film ini. Sebagaimana Na’vi, klan yang terancam dalam Avatar, Suku Bajau juga menghadapi tantangan eksistensi. Akankah identitas mereka bertahan di tengah “serangan” modernisasi?

“Kita adalah Suku Bajau, suku yang mendiami laut yang pekerjaannya adalah mendayung, menyelam, dan melaut.”

Dilansir dari VoA Indonesia, Risno, anak muda Suku Bajau mengatakan itu untuk mendeskripsikan siapa dirinya, dan seperti apa suku di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Risno lahir di Kampung Bajau Sampela, Desa Sama Bahari, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Suku Bajau (Bajo), tinggal di rumah yang didirikan di atas laut, dengan menjadikan gugusan karang sebagai dasar tiang kayu penyangga rumah. Hidup mereka di laut, dan seperti kata Risno, kegiatan mereka tak lepas dari mendayung, menyelam dan melaut.

Read More
banner 300x250

Lahir di tengah laut, membuat anak-anak Suku Bajau akrab dengan air. Berenang adalah kemampuan dasar, sementara menyelam menjadi keahlian tambahan. Mayoritas warga Bajau mampu bertahan 5-6 menit di dalam air untuk berburu ikan, meski sebagian hanya mampu menahan nafas kurang dari 3 menit. Mereka tidak memerlukan alat bantu pernafasan ketika melakukannya.

Suku ini menjadi perhatian besar, setelah film “Avatar: The Way of Water” menjadikan mereka sebagai inspirasi. Sang sutradara, James Cameron, menyinggung hal itu dalam wawancara dengan National Geographic yang dipublikasikan pada pertengahan Desember 2022.

“Ada orang-orang laut di Indonesia yang hidup di rumah panggung, rakit, dan lain sebagainya. Kami melihat hal-hal seperti ini,” ujarnya.

“Mereka punya rasa hormat yang mendalam atas harmoni dan keseimbangan terhadap alam. Ada yang menato kulit tubuh dan wajahnya, dan kami melakukan versi Pandora di film,” kata James.

Pekan ini, “Avatar: The Way of Water” dikukuhkan menjadi film paling laris pada 2022 dengan pendapatan kotor mencapai $1,52 miliar.

Bajau yang Berubah

Melihat Risno adalah melihat Bajau yang berubah. Dia baru saja menyelesaikan kuliah di Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Bau Bau, Buton, Sulawesi Tenggara. Menyandang gelar sarjana adalah sesuatu yang sulit ditemukan di tengah orang Bajau pada dua dekade silam.

“Saat ini, alhamdulillah sudah 20 persen lah kalau di kampung, yang sadar akan pendidikan. Kalau yang sekolah banyak, tapi kalau yang untuk lanjut pendidikan tingkat tinggi, itu masih terhitung jari jumlahnya,” kata Risno kepada VOA.

Risno tinggal di Bau Bau sejak menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sepanjang itu pula, dia melihat kampungnya banyak berubah. Listrik mulai masuk, air bersih mengalir meski relatif terbatas. Dulu, mereka harus mendayung untuk membeli air bersih ke daratan. Toilet umum juga masuk sebagai perubahan besar yang dicatat Risno.

“Tapi sebagian masyarakat tidak nyaman dengan WC umum itu, karena sudah biasa kan dengan proses buang air besar mereka dari dulu, yang memakai sistem los, dibuang di laut,” tambahnya.

Karena pendidikan juga, banyak Orang Bajau berganti pekerjaan. Dulu, melaut adalah profesi utama. Saat ini, banyak generasi muda datang ke daratan dan menggeluti pekerjaan seperti orang lain. Rumah Risno tak luput dari perubahan. Tak lagi menggunakan kayu sebagai tiang penyangga, orang tuanya menumpuh batu karang sebagai penopang rumah mereka. Ada pula, sebagian warga yang mengganti tiang kayu itu dengan cor semen agar lebih awet.

“Ada sebagian rumah yang dasarnya ditimbun dengan batu, dan menjadi rumah seni permanen. Tapi tidak semuanya, kebanyakan rumah Suku Bajau masih memakai tiang-tiang dan masih di atas laut,” kata Risno.

Suku Bajau
Seorang penyelam Bajau berburu ikan di bawah air menggunakan tombak tradisional dari pulau-pulau di Indonesia. (Foto: Melissa Ilardo/AFP)

Namun, tidak semua perubahan bisa diterima. Upaya membangun jembatan, yang menghubungkan perkampungan Bajau dengan daratan, adalah salah satu yang menjadi perdebatan. Bagi Risno, jembatan semacam itu akan mengancam tradisi mendayung orang Bajau ketika pergi ke daratan, baik untuk belanja maupun berjualan. Jembatan, kata Risno, mungkin membuat semua lebih nyaman karena bahkan sepeda motor akan masuk ke kampung Bajau. Namun, risikonya adalah mereka akan meninggalkan perahu-perahu kecil, yang selama ini menjadi alat transportasi andalan.

Suku Bajau dulunya juga memiliki teknik pengobatan sendiri. Jika ada warga sakit, mereka meminta maaf kepada pemilik lautan, untuk menciptakan harmoni kehidupan. Saat ini, jika ada yang sakit, warga Bajau pergi ke Puskesmas.

Orang Bajau seperti Risno, selalu berbicara keras, cenderung berteriak, kepada sesama orang Bajau. Sementara jika bertemu dengan orang di luar Bajau, otomatis volume suara mereka akan turun. Berbicara setengah berteriak, kata Risno, adalah pengaruh alam. Tinggal di tengah laut, dengan angin kencang yang mendominasi, memaksa mereka berbicara dalam suara sama kencangnya.

Ambiguitas Perubahan

Rustam Awat, dosen di Universitas Dayanu Ikhsanuddin, di Bau Bau, sangat akrab dengan kehidupan suku Bajau lantaran hobi fotografi. Karena hobi itu pula, dia melihat bagaimana perkampungan Bajau mengalami perubahan.

“Rata-rata di laut ya, maksudnya terpisah dengan daratan. Kemudian ada dulu kebijakan pemerintah untuk mendaratkan orang laut, mendaratkan orang Bajau. Jadi mereka digeser ke pesisir, atau kalau tidak, biasanya mereka itu dibangunkan jembatan supaya terhubung dengan daratan,” ujarnya.

Di Wakatobi misalnya, ada satu kampung Bajau sudah terhubung dengan daratan dengan jembatan kecil, dan tiga kampung tanpa jembatan.

“Orang Bajau menyebut orang Bajau lain sebagai Sama, sedangkan kita-kita ini, yang berasal dari suku di luar Bajau, mereka panggil dengan sebutan Bagai,” lanjut Rustam.

Hidup bersama laut, bermakna sepenuhnya ada di sana. Bahkan, kata Rustam, anak-anak Bajau bermain bola di lamun-lamun pesisir, ketika air laut surut. Anak-anak ini tidak diajari untuk berenang atau menyelam, mereka menguasai kemampuan itu secara alamiah, kata Rustam, karena kehidupan mereka memang berpusat di laut.

Sekarang, ada Kampung Bajau yang membangun lapangan futsal di atas cor beton, meski tetap di tengah laut. Perubahan yang dilihat Rustam sepanjang menjalani hobi fotografi.

“Ini kan ada ambiguisitas. Kalau saya ditanya sebagai orang yang mendalami fotografi, ya saya pengennya kehidupan mereka seperti dulu. Tapi, orang-orang di sana itu juga mau modern. Mau seperti kehidupan orang darat. Mau bangun rumah batu, mau dibangunkan jembatan supaya terhubung dengan daratan, biar biar bisa beli sepeda motor,” paparnya.

Dalam interaksi bersama orang Bajau inilah, kata Rustam, dia mendengar sendiri bagaimana kehidupan modern juga diimpikan. Mereka juga memegang telepon genggam dan akrab dengan internet.

Namun, Rustam yakin bahwa Suku Bajau tetap akan berada di laut. Pengetahuan dasar mereka adalah tentang laut. Laki-laki mencari ikan dan perempuan menjualnya menggunakan perahu-perahu kecil. Meskipun kehidupan laut tidak bisa dipisahkan dengan suku tersebut, lanjut Rustam, tetapi perubahan tetap terlihat. Tiang bakau untuk penyangga rumah akan diganti beton, dan rumah kayu diganti berbahan semen.

Ada tiga unsur penting bagi sebuah perkampungan Bajau, yang memberi keyakinan bahwa mereka akan tetap tinggal di tengah laut.

“Ketika dijadikan pemukiman, dia harus punya tiga item. Dia harus punya sarana air bersih, harus punya bakau dan dia harus punya terumbu karang,” kata Rustam.

Bakau dan terumbu karang, dalam tradisi konstruksi rumah Bajau, setidaknya akan membuat mereka tetap berada di laut.

Suku Bajau
Anak-anak Bajau Laut belajar berkelahi di tengah kampung mereka di Laut Sulawesi di negara bagian Sabah, Malaysia, 17 Februari 2009. (REUTERS/Bazuki Muhammad)

Empat Penyebab Perubahan

Perubahan Suku Bajau juga menjadi perhatian antropolog Universitas Hasanuddin, Makassar, Dr Tasrifin Tahara.

“Bajau sebenarnya sudah berbeda. Bajau dulu dan Bajau sekarang. Kalau dulu, kan identik dengan suku yang tinggal di atas perahu, dengan pemukiman di atas air yang menjorok di atas laut. Pada perkembangannya, Bajau itu sudah mengalami perubahan atau penetrasi, modernisasi,” kata Tasrifin.

Ia berpendapat ada empat faktor yang mendukung perubahan itu. Pertama, kata Tasrifin, adalah faktor ekonomi. Suku Bajau yang totalitas hidupnya ada di atas laut dan memanfaatkan sumber daya laut, menarik minat pedagang komoditas terkait.

Faktor kedua adalah penetrasi politik. Suara warga Bajau mulai diperhitungkan, dan sebaliknya ada warga Bajau yang mampu menjadi aktor politik, bahkan menjadi anggota DPRD. Dalam catatan Tasrifin, setidaknya ini terjadi di Wakatobi, Muna Barat dan Banggai.

Faktor selanjutnya adalah pemukiman, di mana suku Bajau mulai mengurangi migrasi, karena mereka sudah memahami konsep menetap. Sedangkan faktor keempat adalah pendidikan.

“Pendidikan dimanfaatkan putra-putra Bajau dan dijadikan media kesadaran identitas. Tadinya mereka menjadi kelompok terpinggirkan. Dengan pendidikan, mereka mengapus stigma atau stereotip sebagai masyarakat lapis kedua dalam struktur masyarakat di manapun mereka berada,” tambahnya.

Identitas orang Bajau tidak lepas dari banyak mitos yang mengelilingi kehidupan mereka. Ada kisah, bahwa mereka berasal dari Kerajaan Johor di Malaysia. Mitos menyebut, mereka diutus raja mengantarkan putri ke Sulu, Filipina. Di tengah perjalanan, putri raja itu diculik. Akibatnya, tentara kerajaan tidak berani pulang ke Johor, dan memilih untuk berpindah-pindah di atas laut.

“Pemukimannya banyak ditemukan di perairan Sulawesi, Teluk Bone, kemudian di Palopo di Luwuk, kemudian di Sabah, Malaysia dan di Sulu, Filipina,” kata Tasrifin.

Hubungan Suku Bajau dengan orang Bugis atau Buton, di masa lalu tidak sepenuhnya setara, karena sebenarnya orang-orang Bajau ini hanya diberi izin untuk berlabuh. Karena itulah, mereka tetap tinggal di atas laut, dengan pemukiman yang terus berkembang menjadi perkampungan besar. Karena kemampuan orang Bajau dalam menangkap ikan cukup unggul, posisi mereka diperhitungkan.

Saat ini, perubahan juga terjadi dalam cara orang Bajau menerapkan keahlian menangkap ikan. Penggunaan alat tangkap mengubah kearifan orang Bajau. Mereka menangkap ikan dalam jumlah secukupnya saja di masa lalu. Namun, kini bahkan ada beberapa warga Bajau yang mulai membuka keramba ikan. Mereka tidak lagi mengumpulkan ikan, tetapi sudah membudidayakannya, terutama jenis-jenis ikan untuk keperluan ekspor.

Ada sejumlah ciri yang menurut Tasrifin kemungkinan akan mengalami perubahan.

“Prediksi saya, kemungkinan yang pertama ciri tinggal di atas air itu lambat laun akan berkurang,” paparnya.

Ciri lain adalah etnisitas, karena terjadi proses kawin mawin dengan etnis lain, yang juga dikenal sebagai amalgamasi. Perkawinan ini didorong kemampuan Suku Bajau menguasai bahasa di luar sukunya dengan cukup cepat. Selain itu, suku Bajau juga tidak sepenuhnya suku asli Indonesia, karena mereka bisa menjadi orang Filipina, Malaysia, atau Indonesia.

Namun, Indonesia harus merasa memiliki Suku Bajau karena dia adalah salah satu penguat ciri negara maritim atau negara kepulauan.

“Sebenarnya, di luar dari Suku Buton, Mandar, Bugis, Makassar dan Madura, Bajau itu penanda identitas suku bangsa maritim di dunia. Nah, kalau kita kehilangan Bajau, Indonesia tidak punya lagi ciri khas sebuah negara maritim yang besar,” kata Tasrifin.

Negara bisa melakukan intervensi, terlebih dari Indonesia memiliki Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. UU ini memberi ruang kepada negara agar ciri Bajau sebagai masyarakat maritim, pemilik sah kebudayaan maritim, diinventarisasi dan dikuatkan.

Ciri suku Bajau yang tidak boleh hilang, kata Tasrifin, adalah interaksinya dengan laut. Karena itu, upaya negara dalam mendukung eksistensi suku Bajau, harus dikaitkan dengan kelautan. Jika ciri kelautan ini tidak hilang, Suku Bajau akan mampu mempertahankan kehidupan mereka. Mereka akan tetap tinggal di rumah kayu di atas laut, menyelam dan pergi melaut, dan menerapkan tradisi yang sudah bertahan ratusan tahun itu, tanpa takut dihempas serangan modernisasi.

Di “Avatar: The Way of Water”, klan Na’vi harus melawan manusia dan teknologi modern dalam perang yang nyata. Di lautan Indonesia, Suku Bajau harus berperang dengan modernisasi itu sendiri. [voa]

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60