Pojok6.id (UNG) – Upaya memperkuat tata kelola pembangunan daerah terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor. SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama Sekretariat SDGs Provinsi Gorontalo menggelar pertemuan strategis, dengan sejumlah perguruan tinggi se-Provinsi Gorontalo.
Pertemuan ini difokuskan pada penyusunan skenario pengabdian masyarakat berbasis hilirisasi hasil penelitian, sebagai langkah konkret menghadirkan riset yang tidak hanya berhenti di publikasi, tetapi mampu memberikan dampak nyata di tengah masyarakat.
Dalam forum tersebut, pendekatan Multi Stakeholder Partnership (MSP) menjadi sorotan utama. Model kolaborasi ini dinilai penting untuk menjawab berbagai isu strategis daerah secara terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dua isu prioritas yang dibahas yakni penurunan risiko stunting di Kabupaten Gorontalo, serta pengelolaan persampahan di Kota Gorontalo. Kedua persoalan ini dianggap membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi non-pemerintah, filantropi, hingga komunitas masyarakat.
Sejumlah pimpinan perguruan tinggi turut ambil bagian dalam pertemuan ini, di antaranya perwakilan Universitas Negeri Gorontalo, IAIN Sultan Amai Gorontalo, Universitas Gorontalo (UNIGO), Universitas Ichsan Gorontalo (UNISAN), Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGo), Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo (UNUGo), Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA), hingga Universitas Bina Mandiri Gorontalo.
Kehadiran para ketua LPPM dan kepala pusat KKN ini menunjukkan komitmen kuat, dalam membangun sinergi pengabdian lintas kampus yang lebih terkoordinasi dan tidak tumpang tindih.
Ketua SDGs Center UNG, Raghel Yunginger, menjelaskan bahwa skenario yang tengah disusun dirancang agar program pengabdian berjalan secara terarah, terukur, dan berkelanjutan.
“Program kolaboratif ini diharapkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi memiliki indikator capaian yang jelas dan memberikan dampak nyata melalui hilirisasi hasil riset perguruan tinggi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Advisor GIZ Gorontalo, Bobi Payu. Ia menekankan bahwa kemitraan multipihak menjadi kunci, dalam memastikan riset benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif mampu menghindari pelaksanaan program yang parsial dan tidak terintegrasi, sehingga hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.
Dukungan juga datang dari unsur pemerintah daerah, khususnya bidang penelitian dan pengembangan (Litbang) dari Bappeda Provinsi Gorontalo, Bappelitbangda Kabupaten Gorontalo, serta Bapperida Kota Gorontalo. Mereka mengapresiasi inisiatif ini sebagai langkah awal membangun kolaborasi terpadu, antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Kegiatan ini turut didukung oleh GIZ sebagai mitra pembangunan internasional yang bekerja sama dengan SDGs Center UNG. Ke depan, inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem kolaboratif yang kuat, sehingga hasil riset perguruan tinggi tidak hanya berhenti sebagai karya akademik, tetapi benar-benar terimplementasi menjadi solusi atas berbagai persoalan strategis di daerah. (Adv)








