Pojok6.id (Gorontalo) – Geliat kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Gorontalo pada Agustus 2025, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, tercatat nilai ekspor Gorontalo mencapai US$10,01 Juta, melonjak 21,08 persen dibanding dengan bulan sebelumnya, dan naik 25,20 persen dibanding Agustus 2024.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo, Wahyudin Katili mengungkapkan, bahwa Gubernur Gusnar Ismail, saat ini memang tengah fokus terkait dengan ekspor dan hilirisasi produk. Sebab Gorontalo mencoba berbuat dalam skala lokal, sebagai spirit untuk digaungkan bersama dalam skala yang lebih besar atau nasional.
“Kami tentunya berharap hal ini akan menjadi perhatian dan mendapatkan support kebijakan nasional, bahwa Gorontalo selanjutnya akan mendapatkan dukungan program hilirisasi pengolahan di beberapa segment produk unggulan lokal, sehingga eksport ini akan lebih bergeliat kedepannya,” harap Wahyudin.
Sementara itu, Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti menegaskan, bahwa tren ekspor yang terus meningkat serta turunnya impor, menjadi indikasi positif bagi perekonomian daerah.
“Kinerja perdagangan luar negeri ini menunjukkan Gorontalo memiliki daya saing ekspor yang kuat, terutama pada komoditas kayu, perikanan, dan produk pertanian olahan,” ungkap Dwi Alwi, saat menyampaikan rilis BPS Provinsi Gorontalo, pada Rabu (1/10/2025).
Selain itu, dalam rilis BPS Provinsi Gorontalo, tercatat sepanjang Januari hingga Agustus 2025, total nilai ekspor Gorontalo tembus US$58,89 Juta, meningkat 42,45 persen dibanding periode yang sama tahun 2024 yang hanya US$41,34 Juta.
Adapun komoditas andalan, masih didominasi kayu dan produk kayu dengan kontribusi terbesar, kemudiam disusul buah/biji kacang olahan, serta ikan, udang, dan kepiting. Sementara dari sisi negara tujuan, ada tiga pasar utama ekspor Gorontalo, yaitu adalah Jepang (38,97%), Jerman (19,47%), dan Korea Selatan (14,10%).
Namun demikian, untuk kinerja impor justru mengalami penurunan drastis. Pada Agustus 2025, nilai impor Gorontalo hanya US$983 ribu, merosot 32,47 persen dibanding Agustus 2024. Jika dibandingkan dengan Juli 2025, impor juga anjlok hingga 93,39 persen.
Secara kumulatif Januari–Agustus 2025, total impor tercatat hanya US$1,68 juta, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$25,53 juta. Barang impor didominasi oleh bahan bakar mineral, dengan negara asal utama Tiongkok dan Singapura.
Dengan capaian tersebut, Gorontalo mencatatkan surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar US$57,21 juta pada periode Januari–Agustus 2025. Surplus ini menjadi salah satu yang tertinggi, dalam beberapa tahun terakhir. (Adv)








