Universitas Negeri Gorontalo Gagas Akademi Kerukunan Desa

Kerukunan
Hidayat Koniyo S.T, M.T (Kanan) Ketua Pokja Akademi Kerukunan Desa (Akur Desa) bersama Rektor UNG Dr. Eduart Wolok S.T, M.T, saat memberikan penjelasan mengenai Akademi Kerukunan Desa yang digagas oleh Universitas Negeri Gorontalo. (foto_istimewa)

– Ketua Pokja Desa , menegaskan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam rangka mewujudkan sistem Multikultur Desa menggagas . Akademi Kerukunan Desa ini diperuntukkan untuk merespon isu keragaman, keadilan, dan kesetaraan dari skala desa, dan juga sebagai perpanjangan dari Forum Pemuka Masyarakat Cinta Desa (Forpeace) untuk mewujudkan juru damai desa.

Menurut Hidyat, Akur Desa ini akan menyelisik isu-isu kontemporer seperti ketidakadilan gender, ketimpangan ekonomi, dan tata kelola desa yang cenderung eksklusif dan struktural, alih-alih inklusif dan fungsional.

“Ini merupakan forum komunikasi yang mempertemukan masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang untuk berdiskusi, belajar, dan membuka pandangan seluas-luasnya terhadap orang lain,” ungkap Hidayat.

Read More

Ditambahkan Hidayat, selain itu gagasan Akur Desa nantinya akan menjadi wadah terciptanya forum koordinasi antar tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemerintah, perangkat, serta masyarakat desa untuk berkontribusi dalam merumuskan format penyelesaian konflik dengan menggunakan pendekatan multikulturalisme.

“Capaian yang ingin dicapai dari program ini dengan mewujudkan sistem sosial berbasis multikultur yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar sesama melalui peran aktif tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda, aparat pemerintah dan perangkat desa, serta masyarakat,” jelasnya.

Selanjutnya untuk pembahasan Akur Desa akan dipilah dalam beberapa bidang meliputi agama dan kebudayaan, ekonomi dan sumberdaya manusia, Sosial dan Politik, serta gender dan kesetaraan. (rls_aan)

Related posts