Peneliti UNG Temukan Potensi Terapi Alami dari Kulit Jeruk Nipis

Ilustrasi penelitian (Foto: UNG)

Pojok6.id (UNG) – Siapa sangka, kulit jeruk nipis yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah, ternyata menyimpan potensi besar bagi dunia kesehatan.

Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa limbah kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung beragam senyawa bioaktif, yang berpeluang dikembangkan sebagai terapi pendamping alami yang murah dan ramah lingkungan.

Hasil riset tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah J-HESTECH edisi Desember 2025. Penelitian ini dilakukan oleh tim dosen lintas bidang dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian UNG, dengan fokus pada analisis kandungan fitokimia kulit jeruk nipis melalui tiga metode ekstraksi, yakni maserasi, perendaman, dan perasan.

Read More
banner 300x250

Dari ketiga metode yang diuji, metode maserasi terbukti paling efektif dalam mengekstraksi senyawa metabolit sekunder dari kulit jeruk nipis. Ekstrak hasil maserasi mengandung enam senyawa aktif utama, yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin, dan fenol. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan metode perendaman yang menghasilkan empat senyawa, serta metode perasan yang hanya menghasilkan tiga senyawa.

Analisis lanjutan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) semakin memperkuat temuan tersebut. Ekstrak maserasi menunjukkan lima bercak senyawa aktif, menandakan kandungan metabolit yang lebih kompleks. Hal ini mengindikasikan bahwa proses maserasi memungkinkan pelarut organik menembus jaringan kulit jeruk secara lebih optimal, sehingga senyawa bioaktif dapat terlarut lebih maksimal.

Secara ilmiah, senyawa-senyawa tersebut memiliki peran penting bagi kesehatan. Flavonoid dan fenol dikenal sebagai antioksidan dan antiinflamasi yang membantu menangkal radikal bebas dan meredakan peradangan. Sementara itu, saponin dan tanin memiliki aktivitas antibakteri dengan mekanisme merusak membran sel bakteri. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis, mampu menghambat pertumbuhan bakteri, memodulasi sistem imun, serta berpotensi mendukung terapi penyakit berbasis infeksi dan inflamasi.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, riset ini juga menyoroti aspek keberlanjutan lingkungan. Tingginya konsumsi jeruk nipis di masyarakat menyebabkan volume limbah kulit meningkat setiap harinya. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan ilmiah, limbah tersebut memiliki nilai ekonomi dan fungsional yang tinggi. Pemanfaatan kulit jeruk nipis dinilai sejalan dengan pengembangan produk nutraseutikal berbasis bahan lokal yang murah, efisien, dan ramah lingkungan.

Para peneliti berharap temuan ini menjadi pijakan awal, untuk pengembangan produk lebih lanjut, baik dalam bentuk suplemen herbal, produk kesehatan, maupun bahan baku farmasi. Ke depan, diperlukan uji toksisitas dan uji klinis guna memastikan keamanan serta efektivitasnya sebelum dapat diaplikasikan secara luas.

Dengan riset ini, jeruk nipis tak lagi sekadar pelengkap masakan atau minuman. Di balik aromanya yang segar, tersimpan potensi senyawa bioaktif yang menjanjikan bagi kesehatan sekaligus membuka peluang inovasi berbasis limbah yang berkelanjutan. (Adv)

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60