Kurt Cobain: Seorang Pembohong yang Kita Percaya

Foto: istimewa

Oleh: Rengga Gobel

Pojok6.id (Tajuk) – “I’m a liar and a thief.”
Kurt Cobain menulis kalimat itu dalam lagu Pennyroyal Tea. Entah pengakuan, lelucon, atau sekadar kalimat yang menurutnya enak ditempelkan di lagu, saya tidak tahu. Tapi setelah membaca beberapa cerita tentang hidupnya, kalimat itu jadi terasa agak menggelitik. Sebab kita mengenal Kurt sebagai orang yang sangat “jujur”.

Jujur dalam musik. Jujur dalam penampilan. Jujur dalam kemarahan. Jujur dalam ketidaksukaannya terhadap industri musik. Jujur dalam segala kekacauan yang kemudian membuatnya menjadi semacam nabi bagi anak-anak yang merasa tidak cocok dengan dunia.

Lalu orang ini menulis: I’m a liar and a thief.

Ya sudah. Kita percaya saja.

Tapi kalau kita mulai membaca Heavier Than Heaven karya Charles R. Cross, ceritanya menjadi sedikit lebih berantakan.

Cross tidak menulis Kurt seperti legenda yang sudah jadi. Ia membongkar masa kecil, keluarga, teman-teman, sekolah, hubungan, sampai berbagai cerita yang pernah disampaikan Kurt sendiri. Ia berbicara dengan orang-orang yang ada di sekitar kehidupan Kurt dan mencoba mencocokkan cerita-cerita tersebut dengan fakta yang tersedia.

Beberapa kisah yang selama ini terdengar begitu meyakinkan ternyata tidak sesederhana itu.

Cerita tentang tidur di bawah jembatan adalah salah satunya. Kisah tersebut begitu cocok dengan legenda Kurt: anak muda miskin, kesepian, tidur di tempat kumuh, lalu tumbuh menjadi orang yang mengubah musik rock. Ceritanya bagus, terlalu bagus, malah.

Ketika ditelusuri kembali, bagian tersebut ternyata tidak persis seperti cerita yang selama ini kita bayangkan. Cerita tersebut ternyata adalah bagian dari mitos atau bumbu dramatis yang diciptakan atau dibesar-besarkan oleh Kurt sendiri mengenai masa lalu.

Di sini saya mulai berpikir jangan-jangan Kurt memang suka mengarang, dan ternyata dijelaskan juga dalam buku tersebut bahwa beliau memang suka mengkhayal. Bukan untuk menipu, kadang orang ini hanya ingin membuat ceritanya lebih enak didengar. Kita juga begitu.

Pernah menceritakan sebuah kejadian yang sudah lama berlalu, lalu teman yang ikut mengalaminya mengatakan, “Eh, bukannya waktu itu tidak begitu?”

Menariknya, kita bisa sama-sama yakin.

Ada yang disebut reconstructive memory. Ingatan tidak tersimpan seperti rekaman video. Ketika mengingat, kita menyusun kembali potongan kejadian yang masih tersisa. Detail bisa berubah tanpa kita sadari.

Tetapi ada hal lain yang lebih menarik. Kadang kita memang tahu kejadian sebenarnya biasa saja, lalu ketika bercerita kita membuatnya sedikit lebih menarik. Hampir jatuh menjadi hampir celaka. Pernah berbeda pendapat menjadi “sempat ribut”. Cerita yang datar diberi sedikit bumbu supaya enak didengar.

Cerita tentang masa sekolah, misalnya. Kalau diceritakan apa adanya mungkin biasa saja. Tapi setelah beberapa tahun, kita mulai lupa detailnya. Teman yang menyebalkan menjadi “musuh bebuyutan”. Kenakalan kecil berubah menjadi petualangan. Kegagalan yang memalukan tiba-tiba menjadi kisah lucu.

Di sini muncul self-enhancement, yakni kecenderungan manusia membangun gambaran diri yang terasa lebih menarik atau lebih baik. Kita ingin cerita tentang diri sendiri punya sesuatu yang layak diceritakan.

Cerita yang sering disampaikan juga memiliki kecenderungan untuk terasa semakin familiar. Dalam psikologi dikenal sebagai illusory truth effect. Informasi yang berulang dapat terasa lebih benar karena kita sudah terbiasa mendengarnya. Setelah cukup lama, kita mungkin tidak lagi ingat kapan pertama kali mendengar sebuah cerita atau dari siapa asalnya.

Hal semacam ini mudah ditemukan dalam keluarga.

Ada kisah tentang seorang anggota keluarga yang selalu diceritakan setiap kali berkumpul. Orang yang mengalami kejadian itu mungkin sudah tidak ingat seluruh detailnya. Generasi berikutnya bahkan tidak pernah berada di tempat kejadian. Mereka hanya mengenal ceritanya. Tetapi cerita tersebut tetap dianggap sebagai bagian dari sejarah keluarga.

Cerita yang sama bisa berubah bentuk hanya karena terlalu sering diceritakan.
Saya kira hal semacam ini juga menarik ketika melihat kembali cerita tentang Kurt Cobain. Kurt punya satu keuntungan sekaligus masalah besar: cerita tentang dirinya didengar banyak orang.

Kalau kita membumbui cerita masa muda kepada tiga orang teman, paling-paling tiga orang itu yang percaya. Kurt membumbuinya kepada wartawan. Lalu masuk majalah. Masuk buku. Masuk film dokumenter. Setelah itu masuk internet. Satu cerita kecil bisa menjadi bagian dari sejarah musik rock.

Dan memang ada sesuatu yang nakal dari cara Kurt memperlakukan cerita tentang dirinya. Ia tahu penggemar ingin mengetahui siapa sebenarnya orang di balik lagu-lagu Nirvana.

Lihat saja liriknya. Ada orang yang sampai sekarang sibuk mencari arti setiap kalimat dalam lagu Nirvana seolah-olah Kurt meninggalkan buku harian dalam bentuk album.

Padahal coba baca liriknya dengan santai. Ada kalimat yang terasa sangat pribadi. Ada yang terdengar seperti omong kosong. Ada yang lucu. Ada yang menjijikkan. Ada yang seperti potongan mimpi setelah bangun tidur.

Ia boleh mengarang, ia boleh mencampur pengalaman pribadi dengan sesuatu yang ia lihat, dengar, baca, atau pikirkan secara acak.

Kalau semua liriknya dijelaskan dengan rapi, Nirvana mungkin kehilangan sebagian daya tariknya.

Pennyroyal Tea juga begitu.

I’m a liar and a thief.

Apa maksudnya? Mungkin benar-benar tentang dirinya. Mungkin tidak. Mungkin ia sedang membuat sebuah karakter. Mungkin juga ia hanya menemukan kalimat yang cocok dengan suasana lagu. Kalau memang dia seorang pembohong, setidaknya dia cukup sopan untuk memberi peringatan. Kita saja yang tidak memperhatikan.

Ada ironi lain yang lebih besar. Kurt terkenal karena tidak suka menjadi terkenal. Kalimat itu sudah terlalu sering kita dengar. Seorang lelaki yang tidak nyaman dengan ketenaran kemudian menjadi salah satu wajah paling terkenal dalam musik dunia.

Ia tidak ingin menjadi simbol generasi, lalu media menjadikannya simbol generasi.

Ia tidak ingin terlalu banyak orang tahu tentang dirinya, tetapi kita kemudian memiliki buku biografi, dokumenter, dan forum internet yang semuanya mencoba menjawab pertanyaan tentang siapa dirinya.

Padahal orang yang mengenalnya dari dekat tentu punya ingatan sendiri. Begitu juga orang yang pernah satu sekolah dengannya, pernah satu band dengannya, atau hanya pernah melihatnya dari televisi. Semuanya membawa cerita masing-masing. Charles Cross kemudian datang dengan bukunya. Puluhan tahun setelah itu.

Pelan-pelan, ia dijadikan simbol pemberontakan, suara sebuah generasi, ikon alternative rock, anak malang dari Aberdeen, atau apa pun yang sedang cocok dengan cerita yang ingin kita buat.

Padahal bisa saja dia jauh lebih biasa dari itu.

I’m a liar and a thief. Mungkin itu pengakuan, mungkin juga hanya lirik.
Tapi kalau ternyata sebagian cerita tentang dirinya memang pernah ia karang, saya rasa dia berhasil cukup baik.

Sebab tiga puluh tahun lebih setelah kematiannya, dunia masih sibuk membicarakan seorang lelaki yang pernah mengatakan kepada kita sejak awal bahwa dia adalah seorang pembohong.

Dan kita tetap percaya.

Baca berita kami lainnya di

Related posts

banner 468x60