Pojok6.id (UNG) – Kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi, sekaligus berkomunikasi secara akademik terus didorong oleh English Language Education Study Program (ELESP), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop and Simulation: British Parliamentary System Debate yang digelar pada Jumat (2/10/2026) di Aula Loolade FSB UNG. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan debat, sekaligus membangun keberanian menyampaikan gagasan secara terstruktur dan akademis.
Diinisiasi oleh Tim Pengajar Mata Kuliah Speaking for Academic Purposes, workshop tersebut dirancang untuk memperkuat sejumlah kompetensi penting mahasiswa, mulai dari critical thinking, argumentation, listening, hingga public speaking.
Tak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya ELESP dalam menemukan dan mengembangkan mahasiswa yang memiliki potensi, untuk dipersiapkan sebagai debaters pada berbagai kompetisi akademik.
Workshop menghadirkan dua alumni ELESP FSB UNG, yakni Yuniar P. Lagona, dan Jane-jane Lagona. Kehadiran keduanya sekaligus memperlihatkan kontribusi alumni dalam mendukung pengembangan kompetensi mahasiswa, melalui pengalaman praktis yang relevan dengan dunia debat.
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam tiga tahapan utama, yakni pemaparan materi, sesi tanya jawab, dan simulasi debat. Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep British Parliamentary Debate, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menguji pemahamannya melalui praktik secara langsung.
Kegiatan dibuka oleh pimpinan FSB UNG yang diwakili Wakil Dekan III, Herson Kadir dalam sambutannya, ia mengapresiasi kehadiran kedua pemateri yang merupakan alumni UNG serta memberikan apresiasi kepada tim pengajar yang telah menggagas kegiatan tersebut.
Menurutnya kegiatan debat selama ini kerap diselenggarakan melalui event organizer. Namun, workshop yang digelar ELESP memberikan ruang yang lebih dekat bagi mahasiswa, untuk belajar dan berlatih debat dengan pendampingan langsung dari dosen pengampu Mata Kuliah Speaking for Academic Purposes.
“Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara langsung dan mengembangkan kemampuan debat,” ujarnya.
Memasuki sesi materi, Yuniar P. Lagona menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan dalam membangun argumentasi yang kuat. Menurutnya, debat bukan semata-mata tentang kemampuan berbicara dan mempertahankan pendapat, tetapi juga bagaimana seseorang mampu memahami perspektif pihak lain.
“Debate is the art of listening dan juga membangun keterampilan berpikir kritis terhadap isu-isu dari berbagai sudut pandang,” ungkap Yuniar.
Sementara itu, Jane-jane Lagona memperkenalkan characterization sebagai salah satu aspek penting dalam debat. Mahasiswa juga dibekali sejumlah komponen yang perlu dipersiapkan sebelum memasuki arena debat, di antaranya framing yang mencakup status quo and contextualization, goals, serta models.
Materi tersebut menjadi bekal penting sebelum mahasiswa memasuki sesi simulasi.
Antusiasme peserta semakin terlihat ketika enam perwakilan mahasiswa mendapat kesempatan mempraktikkan sistem British Parliamentary Debate secara langsung. Dalam simulasi tersebut, mahasiswa ditantang untuk menyusun argumentasi, memahami perspektif lawan, membangun respons, sekaligus mempertahankan gagasan berdasarkan isu yang diperdebatkan.
Bagi mahasiswa, sesi tersebut menjadi pengalaman nyata untuk mengasah keberanian berbicara di depan publik, sekaligus melatih kemampuan berpikir secara cepat, kritis, dan terstruktur.
Penampilan para peserta pun mendapat apresiasi dari kedua pemateri. Keberanian mahasiswa untuk tampil dan memanfaatkan ruang praktik, dinilai sebagai bagian penting dalam proses membangun keterampilan debat.
Kegiatan kemudian ditutup oleh Pimpinan Jurusan, Haris Danial. Ia berharap workshop dan simulasi British Parliamentary System Debate dapat menjadi agenda yang dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun.
Lebih dari sekadar kegiatan pendukung pembelajaran, workshop ini diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa ELESP FSB UNG untuk memperluas pengalaman akademik, mengembangkan kemampuan komunikasi, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai kompetisi di tingkat yang lebih luas.
Melalui kegiatan tersebut, ELESP FSB UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa untuk berani berbicara, kritis dalam berpikir, kuat dalam berargumentasi, dan siap berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional. (Adv)
