Pojok6.id (Gorontalo) – Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, memimpin pertemuan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Semester II, Kamis (17/7/2025) yang berlangsung di Ballroom Gedung Azlea, Kota Gorontalo.
Pertemuan strategis ini turut dihadiri oleh sejumlah Kepala daerah Kabupaten/Kota se-Provinsi Gorontalo, serta instansi vertikal dan BUMN seperti Bulog, PLN, Pertamina, BPS, BMKG, dan berbagai unsur-unsur lainnya.
Dalam kesempatan itu, Wagub Idah Syahidah menegaskan, bahwa permasalahan inflasi di Gorontalo hampir merata, terutama pada sektor kebutuhan pokok seperti beras, cabai, tomat, dan bawang.
Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Dinas Ketahanan Pangan yang bekerja sama dengan Bulog, dalam menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) desil I dan II.
“Pemprov Gorontalo bersama Bulog telah menyiapkan sekitar 116 ton beras untuk disalurkan selama bulan Juni dan Juli, masing-masing 10 kilogram per bulan. Kami harapkan distribusi ini tuntas pertengahan Juli agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Idah dalam arahannya.
Tak hanya itu, dirinya juga menyoroti tingginya konsumsi beras masyarakat Gorontalo yang mencapai 7,53 Kg per bulan/orang. Menurutnya hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam menekan inflasi.
“Sehingga perlu didorong diversifikasi konsumsi pangan lokal, seperti singkong, jagung, dan umbi-umbian,” imbuhnya.
Selain itu, terkait kelangkaan LPG 3 kilogram, Idah juga menyoroti kinerja Pertamina dalam memastikan distribusi yang adil dan merata, terutama di daerah pelosok seperti di desa Cempaka Putih Kabupaten Gorontalo Utara, yang diketahui belum memiliki pangkalan resmi. Sehingga ia menekankan perlunya pengawasan lapangan yang ketat agar harga LPG tidak semakin membebani masyarakat.
“Kita masih temukan harga gas melon yang tidak stabil, dan masyarakat kecil tetap membelinya meski mahal. Ini butuh perhatian serius,” tambahnya.
Kemudian terkait dengan PLN, Idah mengungkapkan, bahwa berdasarkan kunjungan lapangan sebelumnya bersama Gubernur di Wonosari dan Paguyaman Pantai, dirinya menerima keluhan warga soal pemadaman listrik yang cukup sering terjadi. Meski Gorontalo memiliki pasokan listrik yang surplus, pihaknya tetap meminta PLN untuk segera mencarikan solusi.
“Tadi disebutkan salah satunya karena gangguan teknis di lapangan, seperti pohon tumbang atau kabel tersangkut menjadi penyebab utama. Jadi saya juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga lingkungan, demi kelancaran pasokan listrik,” ujarnya.
Terakhir, terkait dengan stok beras, Idah membeberkan, bahwa pihak Bulog telah memastikan ketersediaan stok beras untuk Provinsi Gorontalo masih aman, hingga Desember 2025. Kemudian untuk kasus beras oplosan sendiri, itu tidak ditemukan. Akan tetapi ia menegaskan, bahwa pemerintah provinsi akan melakukan sidak pasar dan analisis harga secara berkala, sebagai langkah konkret pengendalian inflasi.
“Inflasi bukan sekadar isu ekonomi, tapi soal kesejahteraan masyarakat, terutama yang rentan dan berpenghasilan rendah. Karena itu, kita semua harus bersinergi dan bekerja kolaboratif,” pungkasnya.
Diketahui pada HLM TPID tersebut, terungkap bahwa Gorontalo berhasil mencatat inflasi yang terkendali, pada semester I tahun 2025. Inflasi year on year hanya sebesar 0,80 persen, jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 1,87 persen. Sedangkan inflasi month to month sebesar 0,37 persen dan year to date sebesar 1,05 persen. (Adv)
