Politik Tidak Menghapus Karya, Tapi Bisa Mengubah Cara Orang Mengingatnya

Slank di MV Republik Fufufafa (YouTube Slank Music)

Oleh : Rengga Gobel

Pojok6.id (Tajuk) – Karya dan Makna
Hampir semua orang punya musisi favorit, entah itu penyanyi atau band. Ada yang ngefans dengan Bernadya, Feast, For Revenge, Taylor Swift, Perunggu, atau Juicy Luicy. Ada pula pemuda generasi minyak tanah yang belum bisa move on dari musik-musik era 1990-an hingga 2000-an seperti Dewa 19, Bon Jovi, Natalie Imbruglia, Nirvana, My Chemical Romance, The Cranberries, dan masih banyak lagi apabila dijabarkan di sini. Masing-masing memiliki kenangan tersendiri dengan lagu-lagunya, lirik-liriknya, bahkan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Sebuah lagu bahkan sering menjadi penanda fase kehidupan seseorang. Anak-anak muda yang masih mencari identitas kerap mengawali masa remajanya dengan musik-musik keras berlirik lugas seperti Rage Against the Machine, Rancid, dan lain sebagainya yang seolah-olah mewakili citra diri mereka yang suka berontak beserta pesan-pesan yang terkandung di dalam liriknya.

Read More

Selera itu pun sering berubah seiring bertambahnya usia. Ketika mulai dewasa, ada yang beralih menyukai musik yang lebih pelan seperti R&B, britpop atau K-pop, seperti Coldplay, Maroon 5, BTS, dan lain sebagainya. Begitu pula sebaliknya, ada yang dulunya menyukai lagu-lagu bertema cinta khas anak muda, tetapi ketika tumbuh dewasa justru lebih menikmati musik dengan lirik-lirik yang sarat makna dari band-band indie seperti Efek Rumah Kaca, Sukatani, dan lainnya.

Semua itu sah-sah saja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa menjadi tua dan menjadi lebih slow adalah sesuatu yang alamiah. ada juga jargon para anak muda buat orang tua yang tidak suka musik berisik “If it’s too loud, then you’re too old.” Namun, banyak juga yang justru semakin tua malah semakin menyukai musik cadas dan semakin menyukai gaya hidup yang progresif, seperti lagu yang berjudul “Semakin Tua Semakin Punk.” dari band Sukatani (sebuah band punk dari Purbalingga yang memainkan musik new wave dengan sentuhan elektronik).

Ya, semua kembali kepada selera.

Selera adalah pilihan, dan pilihan itu relatif, seiring dengan sifat alami manusia yang terus berubah dalam mencari makna.

Berbicara mengenai lagu, setiap musisi pasti selalu menyisipkan pesan dalam setiap karya-karyanya, mulai dari lirik hingga video musik yang semakin menegaskan pesan dari lagu tersebut.

Ada beberapa musisi yang sering berbicara mengenai persoalan sosial, bahkan politik, di dalam lagu-lagu mereka. Sah-sah saja. Bahkan band-band musik keras seperti punk sejak lama selalu berbicara tentang politik melalui lagu-lagunya, bukan untuk memuji ataupun mengapresiasi kekuasaan, melainkan sebagai bentuk oposisi. Sebab, punk secara historis memang lahir sebagai protes terhadap kondisi sosial dan politik.

Lain halnya ketika musisi menyuarakan hal politik melalui lagu bukan dalam hal mengkritik, tetapi menegaskan pilihan dan keberpihakannya. Yang dibicarakan publik perlahan bergeser: dari karya menjadi sikap politik.

Apakah Musisi Harus Netral?

Sebagaimana yang kita ketahui, setiap warga negara berhak berpolitik, begitu pula musisi. Musisi berhak menyampaikan pandangan politiknya, bukan hanya dalam bentuk protes atau kritik.

Yang menjadi persoalan bukanlah hak tersebut, melainkan konsekuensi ketika memilih berada di ruang politik yang penuh polarisasi.

Politik membuat orang-orang terbagi ke dalam kubu. Ada yang berada di kubu oposisi maupun koalisi. Para penggemar pun tidak akan selalu siap melihat idolanya berada di kubu yang berbeda dengan pilihan mereka. Hal ini semakin diperkeruh oleh media sosial yang terus menayangkan dan memperbesar konflik, sehingga sebuah karya sering kali tenggelam di tengah kontroversi.

Musisi punya pilihan politik, itu sah-sah saja. Namun, ketika publik sudah jatuh cinta kepada karya dan idealisme mereka, perubahan sekecil apa pun pasti akan disorot. Baik perubahan dalam karya maupun ketika mereka berhenti membuat karya. Sebab, ketika idealisme sudah begitu melekat, bentuk “diam” pun bisa dianggap sebagai sebuah sikap politik.

Beberapa musisi yang disoroti karena pilihan politik mereka:
1. Slank
Siapa yang tak kenal band Slank? Kecuali mungkin para Gen Z atau Alpha, atau yang sering disebut juga generasi gas 3 kg. Di setiap konser besar di Indonesia, apa pun genrenya, rasanya hampir selalu ada Slankers yang mengibarkan bendera Slank di tengah kerumunan penonton. Benar, kan? Slank adalah salah satu band legenda di Indonesia. Living legend, atau legenda yang masih hidup. Mungkin itulah frasa yang paling tepat untuk menggambarkan band ini.

Salah satu momen yang cukup kontroversial adalah ketika mereka merilis lagu “Polisi yang Baik Hati” pada tahun 2023. Secara narasi sebenarnya tidak ada yang salah. Bahkan judulnya merupakan sebuah kalimat yang bernada positif. Namun, justru di situlah letak kontroversinya. Sebagaimana yang kita ketahui, citra kepolisian saat itu sedang banyak disorot akibat berbagai kasus yang dilakukan oleh oknum-oknum mereka yang, kalau dikumpulkan, mungkin sudah bisa menjadi satu provinsi.

Drummer Slank sempat menjelaskan dalam sebuah podcast bahwa lagu tersebut adalah bentuk “doa”, dalam arti mendoakan agar polisi yang baik hati benar-benar ada. Namun, bagi sebagian publik, penjelasan itu tidak cukup mengubah persepsi.

Slank yang selama ini identik dengan suara jalanan dan kritik sosial justru dianggap membuat lagu yang memuji polisi. Belum lagi salah satu personelnya kemudian mengisi salah satu jabatan penting di sebuah BUMN.

Seketika sebagian pandangan publik terhadap mereka berubah. Banyak yang mencibir bahwa Slank sudah berubah dan menurut sebagian pengkritiknya, telah menjadi band antek pemerintah. Bahkan ketika mereka merilis lagu terbaru pada tahun 2026 berjudul “Republik Fufufafa”, yang menurut saya judulnya terasa terlalu vulgar dan terkesan dipaksakan, meskipun isinya mungkin merupakan kritik terhadap sosok yang dalam perdebatan politik sering dijuluki “anak haram konstitusi”, pandangan publik telanjur berubah. Di kolom komentar media sosial, misalnya, muncul sindiran seperti, “Posisi BUMN mana lagi yang kalian incar?”

2. Iwan Fals
Oo… ya… oya… oya… bongkar…” Penggalan lirik ini tentu sangat familiar bagi kita. “Bongkar” adalah lagu anthem perlawanan yang dirilis pada tahun 1989.

Sejak era Orde Baru, Bang Iwan Fals sudah sangat identik dengan suara rakyat kecil dan kritik sosial. Jangankan pada masa Orde Baru, di era Reformasi ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat pun beliau masih membuat lagu “Manusia Setengah Dewa”, sebuah lagu yang berisi kritik kepada pemimpin. Hal itu terlihat jelas dari liriknya yang berbunyi, “Wahai Presiden kami yang baru, kamu harus dengar suara ini.”

Namun, ketika memasuki era Presiden Jokowi, sebagian penggemar menilai Bang Iwan menjadi lebih lunak dan tidak lagi membuat lagu-lagu yang secara langsung menyuarakan kritik terhadap pemerintahan. Bahkan beliau sempat dianggap membuat blunder oleh sebagian warganet melalui unggahannya di media sosial yang oleh para pengkritiknya dinilai terdengar sangat menjilat karena memuji Presiden Jokowi dan bahkan menyandingkannya dengan Bung Karno.

Dari situlah muncul anggapan bahwa Bang Iwan Fals sudah berubah. Tak ada lagi teriakan “Oo… ya… oya… oya… bongkar” yang lantang dan berani, serta tak berdiam diri terhadap pemerintahan yang dinilai buruk oleh sebagian penggemarnya.

3. Saykoji
Nama ini juga bukan nama kecil. Saykoji adalah seorang rapper yang bisa dibilang sudah cukup senior di komunitasnya, meskipun di atasnya masih ada sang Lord, Iwa K.

Sebagaimana kita ketahui, hip-hop adalah kultur yang sangat identik dengan perlawanan, sebuah kultur yang lahir dari diskriminasi ras dan kemiskinan. Karena itu, cukup mengejutkan bagi sebagian penggemarnya, bahkan bisa dibilang sebuah plot twist ketika Igor Saykoji datang ke IKN dan membuat sebuah lagu lengkap dengan video musiknya bersama Presiden Indonesia ke-7.

Salah satu penggalan liriknya berbunyi:

“Selalu ada makna bila ku ke Kalimantan, bermula ku di sini raih mimpi dari angan, diajak Pak Jokowi ke IKN laksanakan…”

Lagu tersebut kemudian memunculkan berbagai cibiran dari sebagian warganet di media sosial. Ada yang menyebutnya “penjilat”, ada yang berkomentar, “Cair berapa, Bang?”, dan ada pula yang menulis, “Segera bertobat, Bang.”

Ketika proyek IKN kemudian mengalami berbagai persoalan dan dinilai mangkrak oleh banyak pihak, nasi sudah menjadi bubur. Karya sudah telanjur dirilis, dan publik sudah telanjur mendengar serta menyaksikannya.

Tindak-tanduk mereka di mata para penggemarnya ibarat meludah ke udara. Dalam berbagai unggahan di media sosial, bermunculan beragam reaksi. Ada yang membela, seperti pada lagu Slank “Polisi yang Baik Hati”. ada yang menyoroti penggunaan bahasanya, yakni bahwa frasa “polisi yang baik hati” berbeda dengan “polisi baik hati”.

Menurut mereka, penggunaan kata “yang” merupakan bentuk deskripsi, sedangkan apabila judulnya “polisi baik hati”, barulah itu dapat disebut sebagai sebuah label. Entah apakah pendapat tersebut benar-benar objektif atau karena yang menyampaikannya adalah seorang Slankers.

Komentar itu kemudian dibalas lagi dengan kalimat, “Bagaimana dengan penggunaan kata ‘yang’ pada ‘personel yang jadi komisaris’?” Seru dan lucu jika melihat perdebatan-perdebatan di kolom komentar tersebut.

Lain halnya dengan reaksi Saykoji ketika mendapatkan pandangan negatif terhadap pilihan politiknya. Beliau justru berterima kasih atas kritik yang diterimanya dan mengatakan akan menjadikannya sebagai media untuk berkaca.

Sikap tersebut tentu membuat sebagian publik semakin respek kepadanya. Bahkan ada yang mengaku sempat kecewa, kemudian kembali mengaguminya karena kerendahan hatinya yang secara gentle mengakui kesalahan dan tidak bersikap defensif terhadap kritik.

Apakah setelah itu karya-karyanya tetap dihargai, atau justru mulai dibayangi oleh identitas politiknya?

Semua contoh di atas bukan untuk menghakimi atau menyalahkan pilihan politik para musisi tersebut, melainkan hanya ingin menunjukkan bahwa persepsi publik bisa berbeda-beda.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa respons publik tidak pernah seragam. Faktor yang memengaruhinya bukan semata-mata pilihan politik sang seniman, melainkan juga cara ia menyampaikan pandangannya, konsistensi sikapnya, serta konteks sosial dan politik pada zamannya.

Batas antara karya dan kehidupan pribadi semakin tipis. Setiap pernyataan dapat dengan cepat membentuk persepsi baru, bahkan terkadang lebih kuat daripada karya yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Karena itu, masuknya seorang musisi ke ruang politik tidak akan menghapus kreativitas dari musisi tersebut untuk berkarya. Yang berubah sering kali adalah cara publik memandangnya.

Sebagian orang tetap mampu menikmati karya tanpa mengaitkannya dengan pilihan politik penciptanya. Sebagian lainnya merasa bahwa karya dan pencipta tidak dapat dipisahkan. Perbedaan cara pandang inilah yang membuat setiap musisi yang memasuki dunia politik seolah memulai babak baru dalam hubungan mereka dengan para pendengarnya.

Fenomena ini tentu bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, hubungan antara dunia seni dan politik selalu melahirkan konsekuensi yang berbeda-beda. Ada seniman yang justru memperoleh penghormatan lebih besar karena dianggap berani menyuarakan nilai-nilai yang diyakininya. Ada pula yang kehilangan sebagian penggemar karena pilihan politiknya bertentangan dengan pandangan audiens yang selama ini mendukungnya.

Barangkali, itulah harga yang harus dibayar ketika seorang seniman memilih naik ke panggung politik: bukan kehilangan karya, melainkan berubahnya cara publik mengingatnya.

Related posts