Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu

Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur UNG di Desa Luhu. (Foto: Istimewa)

Pojok6.id (UNG) – Tumpukan sampah plastik yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan, mulai diperkenalkan dari perspektif berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026.

Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa KKN memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif, dalam pengolahan sampah plastik. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mendorong masyarakat, agar membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja pirolisis, yakni proses pengolahan material tertentu melalui pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Uap yang dihasilkan dari proses tersebut kemudian didinginkan, hingga menghasilkan cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.

Read More

Mahasiswa menjelaskan bahwa hasil pengolahan melalui pirolisis tidak hanya bergantung pada proses pemanasan. Jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu turut menentukan hasil serta keamanan pengolahannya.

Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan secara proporsional, bukan sebagai satu-satunya solusi persoalan sampah plastik. Teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari edukasi, sekaligus penjajakan terhadap pilihan pengolahan sampah yang perlu dilakukan secara tepat, aman, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, yang dilakukan secara konsisten.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Dalam sesi edukasi, mahasiswa juga menekankan bahwa minyak pirolisis yang dihasilkan, tidak dapat langsung disamakan dengan bahan bakar seperti bensin maupun solar. Pemanfaatannya memerlukan pengujian mutu, penilaian terhadap emisi, pengelolaan residu, serta penerapan aspek keselamatan yang memadai.

Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan KKN, agar masyarakat tidak hanya mengenal teknologi, tetapi juga memahami batasan, risiko, dan kebutuhan pengelolaannya.

Sebelum membahas teknologi pengolahan, mahasiswa mengajak masyarakat memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik, serta melakukan pemilahan sampah. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting, agar sampah yang terkumpul dapat dikelola berdasarkan jenis dan karakteristiknya.

Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan tersebut dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan Pemerintah Desa Luhu, dalam membangun sistem pengelolaan sampah plastik yang lebih terarah.

Diskusi lanjutan diharapkan dapat mencakup sistem pengumpulan dan pemilahan sampah, pilihan teknologi yang sesuai dengan kondisi desa, hingga langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara aman dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan KKN tidak hanya menghadirkan demonstrasi teknologi, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga. (Adv)

Related posts