Lebih Dari 70% Warga Gorontalo Setuju RS Ainun Dibangun Dengan Sistem KPBU

asil jajak pendapat di Strawpoll tentang KPBU RS Ainun hingga Kamis (18/7/2019) pukul 12.00 WITA. (Sumber: tangkapan layar Strawpoll.com).

GORONTALO – Masyarakat Gorontalo memberikan respon positif terkait rencana pemerintah Provinsi Gorontalo untuk membangun Rumah Sakit dr. Hj. Hasri Ainun Habibie (RS Ainun) dengan sistem Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Hal tersebut terlihat dalam polling melalui strawpoll.com yang menunjukan angka 71,58% (408 votes) setuju dengan rencana tersebut. Sementara 27,19% (155 votes) menyatakan tidak setuju dan 1,23% (7 votes) menyatakan tidak tahu. Hasil ini merupakan result hingga pukul 12.00 wita.

Ada dugaan hal itu dilakukan untuk menggiring opini publik bahwa apa yang dilakukan oleh terkait Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) RS Ainun senilai Rp842 miliar adalah hutang yang dicicil selama 20 tahun sebesar Rp90 miliar.

Read More

“Ada upaya untuk menggiring niat baik pemprov menghadirkan layanan kesehatan bagi rakyat sebagai opini negatif. Indikatornya dengan tidak banyak memberi penjelasan bagaimana mekanisme KPBU ini kami jalankan. Seolah-olah Pemprov berhutang. Itu pendapat yang keliru,” jelas Kepala Bapppeda, Budiyanto Sidiki, Kamis (18/7).

Hasil jajak pendapat, lanjut kata Budi, menunjukkan bahwa rakyat Gorontalo sudah sangat cerdas menilai kinerja pemerintah. Hal itu sejalan dengan informasi KPBU yang secara terbuka dan konsisten disampaikan untuk mengedukasi masyarakat.

“Alhamdulillah rakyat Gorontalo sudah cerdas untuk menilai i’tikad baik Pak Gubernur, Pak Wagub dan aparatur di Pemprov Gorontalo. Masyarakat kami yakin mendukung, selama diberi informasi dan dijelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Jika ada yang tidak setuju, itu hanya sebagian kecil,” imbuhnya.

Berikut penjelasan Pemprov Gorontalo terkait KPBU RS Ainun:

Bismillah

Ibu/bapak warga Gorontalo yang budiman, ada sebagian kecil pihak yang tidak senang dengan kebijakan Pemprov Gorontalo dengan terus melemparkan isu miring. Salah satunya mencitrakan negatif terhadap kebijakan pembangunan RSUD Ainun dengan kesan dan memberikan tekanan pada isu negatif “berhutang”.

Perlu kami sampaikan, bahwa pembangunan infrastruktur layanan dasar seperti rumah sakit, SPAM, listrik dll yang tidak mampu dikerjakan oleh Pemda dengan anggaran pembiayaan terbatas, dianjurkan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Skema yang diambil oleh Pemprov Gorontalo membangun RS Ainun sebagai rumah sakit tersier tipe B sekaligus rumah sakit pendidikan.

Secara regulasi, KPBU diatur melalui Peraturan Presiden No. 38 Tahun 2015. Dijabarkan Permen PNN/Bappenas No.4 Tahun 2015, Permendagri No..96 Tahun 2016, Perka LKPP No. 19 Tahun 2015 semuanya tentang teknis kerjasama KPBU.

Penting juga kami sampaikan, bahwa mekanisme KPBU bukanlah hutang (membayar angsuran pinjaman + bunga) sebagaimana yang dituduhkan. Sederhananya, KPBU merupakan sistem kerjasama yang melibatkan pihak swasta (selaku investor) yang membangun fasilitas publik, dalam hal ini rumah sakit. Layanan jasa yang dihasilkan saat rumah sakit beroperasi, itulah yang dibayarkan oleh pemprov setiap tahun selama 20 tahun. Atau yang dikenal dengan istilah Avaibility Payment (AP).

Contohnya pembangunan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM). Pemda tidak punya anggaran membangun SPAM, maka pihak ketiga membangun. Layanan air yang masuk ke rumah rumah warga itulah yang dibayar dengan jangka waktu tertentu (misalnya 20 tahun). Setelah itu, maka aset SPAM menjadi milik Pemda selamanya.

Lebih daripada regulasi dan skema pembayaran, pembangunan RS Ainun menjadi visi cita-cita luhur Bapak Gubernur, Wakil Gubernur dan seluruh ASN Pemprov Gorontalo untuk mewujudkan suatu rumah sakit daerah yang terbaik di Gorontalo. Kita semua ingin saat sakit mendapatkan fasilitas alat kesehatan yang canggih, dokter spesialis yang berkualitas serta pelayanan yang prima.

Sebagai daerah yang mandiri, Pemprov Gorontalo tidak ingin rakyatnya harus mati terlebih dahulu sebelum meminum obat hanya karena rumah sakit tidak mampu menyediakannya. Mati lebih dulu sebelum sempat dirujuk di Makassar, Manado, Palu dan kota lain karena tidak mendapatkan pelayanan dan hak-hak dasarnya. Terlepas bahwa semua kita yang bernyawa pasti mati, kapan dan dimanapun karena kehendak Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

Mari sama sama kita memandang isu ini secara jernih dengan akal dan hati, agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak pihak tertentu.

Salam hormat kami, Pemprov Gorontalo. (adv)

Sumber: Humas Pemprov Gorontalo

Related posts