Cara Museum Popa Eyato Dapatkan Koleksi Benda Purbakala

Teko stenlis untuk tempat menuang air, teh dan kopi tersebut biasanya digunakan pada saat perayaan atau upacara-upacara tertentu. Benda ini juga berasal dari Desa Tilote Gorontalo.Foto:Ihyas)

GORONTALO – Sulitnya mencari koleksi , mengunakan tiga cara pendekatan untuk mendapatkan benda-benda purbakala di Gorontalo. Cara tersebut diantaranya; kompensasi, hibah dan penitipan.

Cara Kompensasi menurut Suharto berupa pembayaran langsung benda purbakala yang dimiliki masyarakat untuk menambah koleksi museum.

“Jadi kita langsung bayar, terus dia punya profil (benda purbakala) itu hanya ditulis sejarah tentang barang tersebut,” katanya kepada Pojok6.id saat ditemui di Moseum Popa Eyato.

Read More

Sedangkan metode hibah, ia mengatakan, benda yang dihibahkan akan diberi keterangan deskriptif sejarah dan keterangan pemilik benda purba yang telah menghibahkan. hal itu juga digunakan untuk pendekatan dengan cara penitipan.

“Jadi siapapun yang datang kesini, kalau kita titip barang disini, mungkin anak cucu kita masih mengetahui pemilik sebelumnya benda purbakala tersebut, hal itu berbeda dengan kompensasi yang hanya dibeli dan hanya diberi keterangan benda saja,” katanya.

Menurutnya, benda-benda purbakala yang dimiliki masyarakat lebih baik diserahkan kepada pihak museum, karena di museum benda-benda tersebut dapat terawat dengan lebih baik.

Lebih lanjut ia juga mengatakan, benda purbakala yang diserahkan ke museum juga memiliki kriteria tertentu, diantaranya; usia benda purbakala minimal 50 tahun keatas, memiliki nilai sejarah, benda unik, benda antik dan langka.

“Yang paling utama itu nilai sejarahnya, jadi benda itu harus memiliki nilai sejarah yang jelas siapa pemiliknya dan untuk apa benda itu digunakan,” katanya. (IYS)

Related posts